Kandungan Gizi Buah dan Sayur

Yarobbi.com | Bulletin Ash-Shihah | Kandungan Gizi Buah dan Sayur

Maka hendaklah mannusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit, kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenangan kalian dan untuk binatang-binatang ternak kalian.”
[QS. Abasa: 23-32]

Kandungan Gizi Buah dan Sayur

Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Siapa yang tak suka buah? Siapa pula yang tak suka sayur? Ada buah yang rasanya manis, masam, sepat, dsb. Masing-masing memiliki warna tersendiri. Ada merah, jingga, hijau, kuning, ungu dan sebagainya. Berbicara mengenai warna pada buah-buahan dan sayuran, ternyata bukan hanya sekedar pelengkap penampilan, bukan pula pembeda antara buah dan sayuran yang satu dengan lainnya. Warna yang dihasilkan dari tumbuhan menunjukkan keberadaan fitokimia tertentu yang berkhasiat dalam pencegahan penyakit tertentu. Karena itu, yuk kita kenali manfaat di balik sayuran dan buah karena beda warna beda khasiatnya!

Kandungan Gizi Buah dan Sayur

Mengenal Gizi dari Warnanya
Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Rahasia di balik keindahan warna dari berbagai sayuran dan buah-buahan ciptaan Allah, ternyata sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Kandungan zat-zat tertentu karena warna pada buah-buahan dan sayuran, telah membantu kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Terdapat beberapa warna yang telah diselidiki oleh para pakar.

  • MERAH TUA/UNGU
    Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Buah dan sayur yang berwarna merah tua/ungu, umumnya mengandung anthocyanin. Yakni anti oksidan yang mampu menghambat terbentuknya gumpalan dalam pembuluh darah. Dengan begitu, resiko terjadinya penyakit jantung dan stroke berkurang. Contoh sayuran dan buah-buahan warna ini, seperti terung ungu, ceri, strawberry, black berries, blue berries, anggur merah/ungu, apel merah, kol ungu, peer merah, cabai merah dan lain-lain.
  • MERAH.
    Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Buah dan sayur berwarna merah, banyak mengandung lycopene. Lycopene ini juga termasuk anti oksidan yang bisa melawan kanker. Selain tomat, kita bisa mendapatkan anti oksidan pada jambu bol, semangka, pepaya, bayam merah.
  • JINGGA.
    Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Pada buah atau sayur warna jingga, terkandung zat yang disebut beta carotene. Yaitu zat yang sangat penting. Selain berkhasiat menjaga kesehatan mata dan kulit, beta carotene juga mengurangi resiko terserang beberapa jenis kanker. Buah dan sayur yang merupakan sumber beta carotene, misalnya wortel, mangga, labu, ubi jalar.
  • KUNING.
    Buah-buahan yang berwarna kuning, biasanya masih sekeluarga dengan buah-buahan berwarna jingga. Warna ini sangat penting untuk kesehatan mata, karena kandungan vitamin A. Buah berwarna kuning, selain mengandung vitamin C juga merupakan sumber beta cryptoxanthine. Yaitu anti oksidan yang melindungi sel dalam tubuh kita dari kerusakan. Kita bisa mendapatkan asupan zat ini pada buah jeruk, pepaya kuning, persik dan nanas.
    Keluarga jeruk merupakan sumber vitamin C, antioksidan yang akan meningkatkan sistem imun, melindungi dari penyakit kardiovaskular dan membangun kembali kolagen dalam kulit. Vitamin C juga membantu penyerapan zat besi. Buah berwarna kuning juga kaya akan potasium yang bermanfaat mencegah stroke dan penyakit jantung koroner.
  • KUNING KEHIJAUAN.
    Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Kalau ingin kesehatan mata kita terjaga, jangan segan mengkonsumsi buah dan sayur berwarna kuning, jingga, kuning dan jingga maupun hijau. Warna kuning dan hijau merupakan pertanda adanya kandungan lutein dan zea xanthin. Zat ini memperlambat terjadinya katarak. Zat inipun mampu memperlambat penurunan daya penglihatan. Lutein dan zea xanthin banyak terdapat pada alpukat, jagung, mentimun (dengan kulitnya), buncis, kacang polong, cabai hijau, melon dan kiwi.
  • HIJAU.
    Warna hijau dalam sayuran dan buah disebabkan karena adanya pigmen klorofil. Sayur-sayuran berwarna hijau sangat banyak mengandung zat penting yang disebut isothiocyanate, sulforaphone dan indole. Zat-zat ini mampu merangsang enzim-enzim di lever (hati) yang mampu melawan kanker. Beberapa contoh sayuran berwarna hijau, yaitu bayam, kangkung, daun singkong dan jenis sayuran hijau lainnya.
  • PUTIH.
    Bawang putih, pisang, jamur, kentang dan kembang kol, termasuk dalam kelompok sayuran dan buah berwarna putih yang sudah kita kenal. Warna putih dalam bahan pangan ini berasal dari antozantin, jenis flavonoid yang memiliki sifat antioksidan. Pada bawang putih mengandung zat anti tumor, yaitu yang disebut allicin. Selain bawang putih, masih ada beberapa jenis sayuran berwarna putih kehijauan yang berkhasiat karena mengandung flavonoid. Yaitu zat yang melindungi sel dari kerusakan. Beberapa contoh golongan ini, yaitu: taoge, asparagus, daun bawang, seledri, jamur lokio dan jenis sayuran putih kehijauan lainnya. Keunggulan utama dari kelompok si putih ini adalah menurunkan risiko kanker prostat, meningkatkan aktivitas kekebalan tubuh dan juga kaya akan potasium.

Kandungan Gizi Buah dan Sayur

Menggugah Selera, Kesehatan Terjaga
Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Buah dan sayuran berwarna mengandung ratusan senyawa fitokimia yang berbeda satu sama lain. Dengan mengonsumsi bahan pangan dari semua kelompok warna, kita akan mendapatkan perlindungan optimal dari penyakit dan gangguan kesehatan lainnya. Senyawa fitokimia bekerja secara alami dengan metode yang tidak bisa ditiru oleh suplemen pangan.
Menurut Dr Lorelei DiSogra dari National Cancer Institute, “Dengan mengonsumsi buah dan sayuran dari tiap kelompok warna, kita akan mendapat manfaat dari rangkaian unik fitokimia, serta vitamin, mineral, dan serat penting yang terdapat dalam setiap kelompok warna tersebut.” National Cancer Institute menganjurkan konsumsi paling sedikit lima kelompok bahan pangan berwarna setiap hari, yaitu merah, putih, biru atau ungu, kuning, dan hijau. Setiap warna menunjukkan keberadaan senyawa fitokimia tertentu yang berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit.

Pola Makan Masyarakat Kini
Sebuah survei yang dilakukan tahun 2004 menunjukkan, hanya sekitar 15 persen penduduk Indonesia yang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan lebih dari lima porsi per harinya. Jadi, sebanyak 85 persen penduduk Indonesia kurang sayuran dan buah-buahan.
Salah satu faktor penyebab rendahnya konsumsi sayur dan buah adalah masyarakat modern lebih memilih makanan siap saji dan serba instan. Padahal makanan segar, terutama sayur dan buah, sangat membantu dalam proses metabolisme tubuh, karena kandungan vitamin, mineral dan serat di dalamnya.
Rendahnya konsumsi sayuran dan buah-buahan patut disayangkan karena kedua komoditas itu merupakan sumber aneka vitamin, aneka mineral, serat pangan (dietary fiber), serta aneka senyawa fitokimia.  Vitamin yang banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan yakni vitamin C dan vitamin B kompleks. Beberapa sayuran dan buah-buahan juga merupakan sumber vitamin A, D, dan E yang sangat potensial. Karotenoid (prekursor vitamin A), vitamin C, dan vitamin E merupakan antioksidan alami yang berguna untuk melawan radikal bebas, penyebab penuaan dini dan berbagai jenis kanker. Mineral yang banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan adalah zat besi (Fe), zinc (Zn), copper (Cu), mangan (Mn), kalsium (Ca), dan fosfor (P). Beberapa dari mineral tersebut, seperti Cu, Zn, dan Mn, juga merupakan mineral antioksidan.
Maka tak heran, bila saat ini muncul berbagai penyakit degeneratif yang dulu jarang terjadi, misalnya penyakit jantung, stroke, kanker usus besar (Ca kolon), divertikulosis, aterosklerosis, diabetes, hipertensi, dan penyakit lain yang cenderung mengalami peningkatan, diakibatkan oleh pergeseran pola makan, disamping adanya faktor lain yang berperan seperti bahan-bahan kimia tambahan, polusi dan lain-lain.

Piring ‘Pelangi’ ala Budaya Jepang
Kandungan Gizi Buah dan Sayur, Konsep makanan warna-warni telah lama dikenalkan di Jepang. Berkembangnya agama Budha di Jepang mendorong masyarakat hidup dengan pola makan ala vegetarian. Pola makan tersebut mendorong semakin berkembangnya makanan asal nabati, serta timbulnya kebiasaan makan sayuran dan buah-buahan. Dalam pola hidup vegetarian secara Buddha, masyarakat Jepang saat itu mengembangkan konsep lima warna dan enam rasa utama dalam makanannya sehari-hari. Kelima macam warna tersebut adalah: hijau, merah, kuning, putih, dan ungu, sedangkan keenam rasa utama adalah: pahit, asam, manis, pedas, asin, dan gurih. Budaya tersebut hingga kini masih tersisa dalam masyarakat Jepang modern.
Secuil budaya Jepang dengan ‘Piring Pelangi’ tersebut bisa kita adopsi dalam pola makan sehari-hari. Untuk kesehatan optimal, para ahli gizi menganjurkan konsumsi makanan beragam warna. Piring harus terlihat seperti pelangi. Mengonsumsi buah dan sayuran berwarna lima porsi atau lebih adalah bagian penting dari pola hidup sehat.
Karena Allah pasti memiliki maksud tertentu dalam menciptakan bahan pangan yang berwarna-warni tersebut. Sepiring makanan berwarna-warni bukan saja menggugah selera, melainkan juga memberikan manfaat kesehatan sangat berlimpah. Perbedaan warna pada setiap bahan pangan menunjukkan kandungan zat gizi dan senyawa fitokimia berbeda. Semakin banyak variasi warna makanan yang kita konsumsi, makin lengkap zat gizi yang didapatkan. Itu sebabnya, makanan berwarna-warni mutlak diperlukan. Jadi, tunggu apa lagi? Let’s paint your plate with color!

Wallahu a’lam.[hafshah]

Maroji’ Kandungan Gizi Buah dan Sayur:

  • Muhammad As-Sayyid,Prof.Dr.Abdul Basith. 2006. Pola Makan Rasulullah, Makanan Sehat Berkualitas Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jakarta:Almahira
  • http://kesehatan.kompas.com/read/2010/07/01/08311149/Pentingnya.Makanan.Warnawarni
  • http://health.kompas.com/read/2011/08/10/13585473/Lengkapi.Gizi.dengan.Makanan.Pelangi
  • http://almanhaj.or.id/content/2284/slash/0

 

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

Yarobbi.com | Bulletin Ash Shihah | RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

(dr. Neni S)
Seorang teman terdapat benjolan ditubuhnya, dia berusaha mendapatkan kesembuhan dari Alloh dengan mendatangi sebuah klinik herbal, berbagai obat herbal telah dikonsumsinya. Namun benjolan ditubuhnya pun masih tetap tidak menunjukan perubahan kearah yang diharapkan. Akhirnya benjolan yang semula tidak menimbulkan rasa sakit itu, lama kelamaan menjadi sakit dan membuat si pemilik badan sudah tidak kuat menahan sakitnya. Si sakit meminta temannya diantar ke dokter ahli di Rumah Sakit, untuk mengetahui diagnosa pasti akan benjolan yang ada ditubuhnya secara medis. Diagnosa dokter mengatakan benjolan tersebut adalah kanker ganas. Dokter ahli menyampaikan pesan, agar kanker teman saya ini segera diambil, “dengan menunda 1 hari pengambilan saja berarti mengurangi 1 bulan umur anda” demikian ujar si dokter ahli.
Dengan melihat manfaat dan madhorot yang akan didapat jika benjolannya dioperasi, si sakit teman saya ini berusaha mencari pengobatan yang lebih ringan side effect nya dari pada sebagian tubuhnya diambil, dengan mendatangi kembali klinik herbal dimana dulu dia berobat dengan membawa hasil pemeriksaan lengkap rumah sakit. Dokter yang berpraktek di klinik herbal pun tidak berlepas tangan begitu saja, dokter herbal tersebut membawa si sakit ke herbalis yan lebih ahli. Namun herbalis tersebutpun menyarankan untuk dioperasi dulu baru di recovery dengan herbal. Tidak berhenti sampai disini perjalanan si sakit dalam mencari pengobatan yang tepat untuk dirinya. Berbagai terapi non medis terstandar battra (obat tradisinal) pun telah dilakoninya. Namun hasilnya belum signifikan, adapun denan pengobatan herbal timur yang hasilnya lumayan signifikan berharga ratusan juta rupiah.
Akhirnya si sakit mengembalikan pengobatan atas dirinya kepada pengobatan medis di rumah sakit dengan menjalani operasi. Dengan mempersiapkan diri akan  side effect yang akan dia terima setelah di operasi. Subhanalloh, dengan menggantungkan penyembuhan kepada Alloh saja, berikhtiar semaksimal mungkin mencari jalan yang terbaik untuk mendapatkan pengobatan yang tepat atas ujian yang Alloh berikan kepada si sakit. Keputusan yang tepat antara menyetujui advise dokter ahli dan berusaha mencari pengobatan alternative kepada dokter herbal menjadi runtutan usaha yang semua bernilai ikhtiar berharap penyembuhan yang datangnya dari Alloh saja. Ikhtiar seorang manusia ketika dia sakit adalah sebuah keharusan , kewajiban mutlak bagi seorang muslim yang mewajibkan ummatnya berikhtiar atas segala permasalahan hidup yang menimpa hidupnya. Baik, masalah ekonomi, masalah persengketaan, maupun masalah kesehatan.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Perlu kita renungkan dalam kehidupan kita apakah kita menggunakan “Pengobatan untuk Agama” atau “Agama untuk Pengobatan “. Dalam kerangka beribadah kepada Alloh, menjelajah, meneliti, mengurai banyak permasalahan, menemukan jawaban atas model masalah semuanya dipersembahkan dalam rangka beribadah kepada Alloh saja. Inilah wujud aktualisasi pernyataan “Pengobatan untuk Agama”
Namun ketika kata kunci “Agama untuk Pengobatan“ maka yang terjadi adalah berhentinya proses menggunakan akal untuk sesuatu yang tidak mutlak. Ketika pengobatan sudah diberikan maka kita tidak mau lagi mengeksplorasi keanekaragaman hayati disekitar kita yang masih banyak manfaat untuk kita. Ilmu pengobatan bukanlah ilmu yang tsawabit (perkara yang tetap dan baku menurut agama). Namun ilmu pengobatan bersifat mutaghoyyirot (perkara dinamis dan bisa berubah), dimana umat islam bisa memaksimalkan potensi yang ada untuk mengembangkan ilmu pengobatan yang dibutuhkan untuk kesehatan dan kemajuan umat islam itu sendiri.

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

Thibbun Nabawi (Ilmu Pengobatan Nabi)
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Dalam thibbun nabawi kita mengenal tokah tokoh bernama Ibnu Sina, Ibnu Qoyyim Al jauziyah,  Adz Dzahabi, As Suyuthi.  Berangkat dari berbagai hadits Nabi, yang memerintahkan eksplorasi tata cara pengobatan. Diantaranya : “Alloh tidak menciptakan suatu penyakit tanpa menciptakan pula obatnya” (HR. Bukhori) “ Setiap penyakit ada obatnya. Ketika obat yang diberikan tepat, penyakit itu tersembuhkan dengan izin Alloh Yang Maha Kuasa” (HR. Muslim). “ Nabi Muhammad, mengunjungi seorang laki-laki yang sedang sakit dan berkata, panilkan seoran tabib (dokter) untuknya! “oran sakit itu berkata,“ Ya Rosululloh, Engkau benar benar mengatakan itu?” Beliau menjawab, “Ya, benar” (HR. Abu Nu’aim). “Kesembuhan itu terdapat pada 3 hal, yakni minum madu, sayatan alat bekam, dan kayydengan api. Tetapi aku melarang umatku dari kayy”.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Thibbun Nabawi yang dipraktekkan hari ini adalah berdasarkan pemahaman hadits hadits Nabi yang di eksplorasi lebih jauh menjadi manifestasi pengobatan berupa bekam, minum madu, rukyah, dzikir, dan herbal tanaman hayati lain yang sering di klaim juga dari Nabi. Padahal itu merupakan eksplorasi jamu tradisional yang juga merupakan eksplorasi pemikiran manusia untuk mewujudkan kesembuhan pada manusia.Yang itu semua juga diperbolehkan dan dianjurkan dalam agama.

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

 Medis Modern
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Pengobatan kedokteran medis adalah kedokteran berbasis bukti empiris dan penelitian yang cukup lama. Secara umum, terdapat  area kedokteran berbasis bukti yang terpisah, tapi saling tergantung. Pertama, merawat pasien sesuai literature yg tepat. Kedua, peninjauan kembali literature medis oleh para pemikir medis, dan pemngumpulan jurnal untuk pembelajran bagi terapis medis yang sangat bergantung pada pribadinya masing masing. Semua tindakan dalam dunia medis harus terbukti secara nyata secara numeric maupun data yang pasti. Medis modern didapat dari para ilmuwan yang mengeksplorasi kimia modern untuk kepentingan pengobatan.
Kimia berasal dari bahasa arab “Al- kimia”, yang berarti seni perubahan bentuk, ilmu inipun ditemukan oleh ilmuan muslim. Asal usul kimia dapat dirunut kepada praktik yang dikenal sebagai Al-Kimia, yang telah diterapkan beberapa abad yang lalu, khususnya di dunia islam/arab. Ilmu ini mempelajari reaksi antar zat kimia, baik di dalam tubuh seperti kimia organic maupun non organic.

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?
Mana yang lebih baik, obat kimia atau obat tradisional……?
Selama ini obat herbal atau jamu tradisional dianggap sebagai obat tanpa efek samping, benarkah? Bukankah sari tanaman atau obat tradisional juga barang asing yang masuk ke dalam tubuh diluar kebiasaan makanan seseorang. Obat herbal ditemukan berdasar kebiasaan orang orang zaman dahulu yang belum diketahui efek farmakologinya di dalam tubuh. Namun, kebiasaan itu bisa digunakan sebagai rujukan yang sebenarnya bisa dituliskan secara empiris dan detil sehingga menjadi sebuah ilmu pengobatan herbal/jamu yang terstandar. Sebagai gambaran, kunir dikenal dapat digunakan untuk mengobati diare. Diare yang seperti apakah yang bisa sembuh dengan minum sari kunir? Seberapa sering diarenya? Bagaimana konsistensi fecesnya? Bagaimana kondisi umum pasiennya? Adakah tanda dehidrasinya? Dan berbagai penelitian lainnya. Layaknya herbal cina yang telah diketahui afinitas (cara dan arah kerja) herbalnya, yang didapat dari pencatatan oleh para tabib cina selama beratus-ratus tahun, dimana buku catatan itu akan diteruskan oleh murid muridnya hingga tidak terputus data penelitian tanaman atau obat herbalnya.
Maka, untuk ukuran medis, kemanjuran suatu obat tidak bisa dijadikan ukuran layak tidaknya obat itu dikonsumsi. Karena bisa jadi pengalaman seseorang berbeda dengan yang lain. Pengujian tersebut memilah obat tradisional menjadi 3macam :

  • ·Fitofarmaka (sudah lulus uji klinis)
  • ·Herbal terstandar (lulus uji preklinis)
  • ·Obat tradisional yang secara pengalaman sudah terbukti berkhasiat, namun belum ada uji klinis.

Sedang obat kimia yang beredar dan boleh dikonsumsi masyarakat maupun yang diresepkan oleh para dokter adalah obat yang telah lulus uji klinis.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER?, Maraknya praktek thibbun nabawi dewasa ini, banyak praktikan yang menganggap obat kimia semua tidak baik untuk tubuh manusia. Benarkah? Sedangkan dia sudah melewati uji klinis yang dibuktikan secara empiris. Walaupun label halal kebanyakan belum tercantum di obat kimia. Inilah tugas kaum muslimin yang mempunyai profesionalisme medis modern, untuk membuat standarisasi halal bagi obat kimia.
Mungkinkah resep nabi atau resep dokter didudukkan secara proporsional. Mungkin sekali…..!
Memang dibutuhkan tenaga medis maupun terapis herbal/thibbun nabawi yang mengerti karakteristik masing masing resep. Akhir akhir ini sudah mulai marak dilakukan penelitian terhadap berbagai tanaman herbal berkhasiat, sehingga masing-masing tanaman herbal dapat diketahui afinitasnya kearah organ mana didalam tubuh manusia. Seiring berjalan waktu mudah mudahan dapat dilakukan standarisasi pengobatan herbal dan thibbun nabawi. Begitu pula yang memakai medismodern, menganggap herbal sebagai suplemen gizi yang kebanyakan fungsinya dalah preventif bukan kuratif.
Namun ketika seorang terapis herbal maupun dokter medis mampu menjadi seorang komandan yang mampu mengamati perjalanan penyakit, apakah penyakit perlu dibasmi secara cepat seperti wabah. Ataukah penyakit lebih aman di hilangkan dengan cara perbaikan system tubuh. Ataukah luka itu harus dijahit, dan perlukah operasi dilakukan pada orang yang tepat. Maka kedua pengobatan ini akan berjalan secara proporsional sesuai dengan fungsinya.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Muara dari semua ikhtiar itu adalah kesembuhan yang datangnya dari Alloh semata. Dan kesabaran menjalankan ikhtiar itulah yang akan menjadi amal sholih kemuliaan bagi yang menjalankannya.

wallahu’alam