Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir

Yarobbi.com | Bulletun Ash-Shihah | Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir

Tidak hanya pernikahan yang bisa dibuat nyentrik dengan memilih tanggal cantik dalam melangsungkan acaranya. Kalau tahun kemarin mungkin ada 11-11-11 atau 20-11-2011, tahun ini pun mungkin sudah ada beberapa orang yang menyiapkan sejuta moment di tanggal cantik tahun 2012. Begitu juga persalinan, terkadang bisa ‘dipesan’ agar bisa pas dengan tanggal cantik tersebut. Itulah yang dinamakan tren operasi sesar.

Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir

DILEMA
Sesar atau dalam bahasa medis sering disebut SC (Sectio Caesarea) merupakan suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat diatas 500 gram, melalui sayatan pada dinding uterus (rahim) yang masih utuh. Meningkatnya tren operasi caesar di berbagai negara oleh WHO dinilai membahayakan kesehatan perempuan, apalagi bila dilakukan tanpa adanya indikasi medis yang kuat.
Banyak wanita yang salah mengerti, mereka menganggap melahirkan secara caesar lebih aman dibanding melahirkan secara normal, ‘kata Dr. A.Metin Gulmezoglu, peneliti dari WHO yang melakukan survei tentang operasi caesar di Asia’. Ia menjelaskan, bedah caesar adalah operasi besar yang hanya menjadi pilihan ketika keselamatan ibu dan janin terancam.

Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir

INDIKASI
Sebagaimana diketahui bahwa memutuskan untuk melakukan bedah sesar tidaklah mudah. Terdapat beberapa keadaan yang harus bisa mengindikasi hal tsb, secara umum adalah tidak memungkinkannya persalinan per vaginam (normal), induksi persalinan yang gagal dan beberapa faktor baik dari ibu maupun janin.

  1. Ibu
    • CPD (Cephalo Pelvic Disproportion)
      Adalah ketika kepala bayi atau badan bayi terlalu besar untuk melewati panggul ibu. Hal ini bisa disebabkan panggul ibu yang sempit (biasanya dimiliki orang dengan tinggi kurang dari 145 cm), janin besar, posisi bayi yang abnormal atau bentuk panggul yang abnormal.
    • Incoordinate Uterine Action
      Yaitu sifat his (kontraksi) yang berubah. Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah rahim yang menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan
    • Plasenta Previa
      Ialah plasenta yang letaknya abnormal (berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menutupi sebagian atau seluruh lubang luar leher rahim yang menuju vagina/ ostium uteri internum) pada usia kehamilan minimal 28 minggu.
      Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir
      Gejalanya adalah terdapat perdarahan bercak atau ringan tanpa nyeri, banyak dan berulang-ulang, bagian janin ke atas dengan denyut jantung janin yang masih positif.
  2. Janin
    • Janin Besar
      Janin dikatakan besar apabila beratnya lebih dari 4000 gram. Biasanya dikarenakan ibu dengan riwayat diabetes melitus (penyakit gula) atau pola makan ibu yang tidak baik (banyak mengandung glukosa) selama kehamilan.
    • Gawat Janin
      Suatu keadaan dimana denyut jantung janin (djj) kurang dari 100x/menit atau lebih dari 180x/menit serta dapat ditandai dengan air ketuban yang berwarna hijau kental. Penanganan umumnya adalah ibu dimiringkan kiri, diberikan oksigen dan menghentikan infus oksitosin (merangsang kontraksi) jika sedang diberikan.
    • Letak Lintang
      Dimana bagian terendah janin bukan kepala, kepala terletak di sisi kanan atau kiri perut ibu. Biasanya bagian terendah janin adalah bahu. Dan hal ini dapat dikethui melalui pemeriksaan pada perut ibu.

Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir

MACAM BEDAH SESAR

  1. Teknik SC corporal/klasik
    Dilakukan insisi (irisan/sayatan) pada korpus uteri (tubuh rahim) sepanjang 10-12 cm, sehingga sayatan yang terbentuk adalah garis vertikal.
  2. Teknik SC transperitonealis profunda
    Pembedahan ini paling banyak dilakukan. Dilakukan insisi pada segmen bawah rahim yakni melintang selebar 10 cm dengan ujung kanan dan kiri agak melengkung ke atas untuk menghindari terbukanya cabang-cabang pembuluh darah. Sehingga garis yang terbentuk adalah horisontal.
    Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi AkhirBeberapa perbandingan antara SC klasik dan SC transperitonalis profunda yaitu :

Pembeda

SC Klasik

SC trans.profunda

Teknik Lebih mudah Lebih sulit
Proses lahir bayi Lebih cepat Lebih lambat
Perdarahan Banyak Sedikit
Infeksi Lebih besar Sedikit
Penyembuhan Kurang baik, banyak perlekatan antara rahim dan dinding perut. Lebih baik, perlekatan sedikit
Gangguan kontraksi pada persalinan berikutnya

(+)

(-)

Ruptur uteri (robeknya rahim) pada persalinan berikutnya

Resiko besar

Jarang

Jahitan

3 lapis

2 lapis

Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir

ANASTESI (pembiusan)
Sang ibu umumnya akan diberikan anastesi lokal (spinal atau epidural), yang memungkinkan sang ibu untuk tetap sadar selama proses pembedahan dan untuk menghindari si bayi dari pembiusan.
Pada masa sekarang ini, anastesi umum untuk bedah sesar menjadi semakin jarang dilakukan karena pembiusan lokal lebih menguntungkan bagi sang ibu dan si bayi. Pembiusan umum dilakukan apabila terjadi kasus-kasus berisiko tinggi atau kasus darurat.

KOMPLIKASI

  1. Infeksi puerpereal(nifas)
    • Ringan, dengan kenaikan suhu dalam beberapa hari saja.
    • Sedang, kenaikan suhu lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
    • Berat, seperti peritonotis, sepsis dan ileus paralitik. Hal ini sering dijumpai pada partus (persalinan) terlantar dimana sebelumnya telah terjadi infeksi seperti ketuban yang sudah lama pecah.
  2. Perdarahan
    Bisa disebabkan karena banyaknya pembuluh darah yang terputus dan terbuka, atonia uteri (rahim tidak/kurang berkontraksi setelah bayi baru lahir), dan perdarahan pada plasenta.
  3. Komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru (penyumbatan mendadak pada pembuluh arteri) dan sebagainya yang jarang terjadi.
  4. Ruptur uteri karena kurang kuatnya bekas luka pada dinding rahim dan biasanya terjadi pada riwayat SC klasik.
  5. Bayi yang lahir dengan persalinan bedah sesar seringkali mengalami masalah bernafas untuk pertama kalinya. Sering pula sang bayi terpengaruh obat bius yang diberikan kepada sang ibu.

Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir

PERSALINAN NORMAL SETELAH BEDAH SESAR
American College of Obstetricians and Gynecologist
pada Juli 2010 mengeluarkan rekomendasi terbarunya agar setiap ibu yang telah melahirkan secara bedah caesar, bahkan dua kali di operasi, masih boleh melakukan persalinan secara normal pada kelahiran berikutnya atau disebut juga VBAC (Vaginal Birth After Caesarean). Sekitar 60-80 persen wanita yang pernah melakukan caesar diperkirakan bisa melahirkan secara normal. Akan tetapi, operasi caesar tetap perlu diperlukan apabila ibu hamil tergolong obesitas atau bayi yang dilahirkan berukuran besar.
Di waktu lalu, bedah sesar dilakukan dengan sayatan vertikal sehingga memotong otot-otot rahim. Bedah sesar sekarang ini umumnya melalui sayatan mendatar pada otot rahim sehingga rahim lebih terjaga kekuatannya dan dapat menghadapi kontraksi kuat pada persalinan normal berikutnya. Luka bekas sayatan pada bedah sesar sekarang ini adalah terletak di bawah (segmen bawah rahim).
Baiklah bunda, sedikit gambaran mengenai bedah sesar telah dipaparkan. Setidaknya kita memiliki gambaran bagaimana menyikapi persalinan sesar.  Jadi tak hanya ikut-ikutan dalam tren bedah sesar melainkan harus berpikir panjang terhadap dampaknya. Karena melahirkan adalah sebuah kemuliaan dari Allah yang pahalanya setara syahid jika kita meninggal dunia dalam persalinan. Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Orang yang terbunuh fi sabilillah adalah syahid, orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid, orang yang mati tenggelam adalah syahid, wanita yang mati karena melahirkan adalah syahid dan orang yang mati karena wabah kolera adalah syahid.”

*Bedah Sesar: Dilema antara Tren dan Solusi Akhir dari berbagai sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *