Moksibusi tidak Menambah Energi

Saya menulis judul ini karena terkait dengan pengalaman saya pribadi yang dulu salah dalam memahami akupuntur dan moksa. Dulu saya mengira moksa itu akan nambah energy ternyata setelah berguru dan belajar lagi moksa tidak menambah Qi / energy. Sebagaimana juga dalam penggolongan herbal ada tonik Qi dan tonik Yang, maka moksa tergolong tindakan yang menambah unsure Yang.

Unsur Yang didapatkan dari kumpulan Qi. Maka jika orang tersebut cukup energinya ia akan merasakan kehangatan pada tubuhnya karena cukup Yang. Jika orang tersebut kekurangan Yang / Yang xu maka ia akaan merasakan kedinginan.
Continue Reading

Perawat Visioner dan peluang kerjanya

Setiap hari, semakin banyak mahasiswa keperawatan yang selesai menempuh studinya di berbagai perguruan tinggi. Ada yang berasal dari jenjang pendidikan profesi Ners, sarjana (S1), Diploma (DIII), atau yang berdasarkan dari sekolah perawatan setingkat SMA. Pertanyaannya, apakah kebutuhan lulusan perawat di negara indonesia sebanding dengan jumlah lulusan yang ada?
Continue Reading

BEKAM SINERGI MENDUKUNG ADANYA SERTIFIKASI BEKAM

Adanya fenomena yang berkembang ibarat jamur dimusim penghujan dan konsisi lembab adalah fenomena perkembangan terapi bekam ditanah air. Baik dikalangan pejabat negara kita, artis sampai dengan petani dan pedagang asongan sudah banyak yang mengenal bekam. Buktinya dapat dilihat dari publikasi ditelevisi, media cetak, dan baksos bekam disekeliling kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah adakah sebuah prosedur seorang itu bisa berpraktek bekam dengan legal dan aman bagi masyarakat? Karena bekam adalah sebuah tindakan terapi terhadap penyakit yang sangat mudah dilakukan. Bahkan untuk bisa membekam seorang cukup mengikuti 2-4 jam saja sudah bisa membekam.

Itu adalah fenomena yang terjadi dimasyarakat.

Maka menjadi sebuah keprihatinan kami ke depan untuk mendukung adanya sertifikasi bekam. Sehingga para pembekam yang praktek adalah para kader kesehatan yang sudah tahu ilmu tentang penyakit. Terutama penyakit yang harus diterapi dengan berbekam.Para terapis mengetahui bagaimana pemilihan titik bekam, tindakan sterilisasi alat bekam, mekanisme pengelolaan limbah bekam dan lain lain.

Impian kami adalah adanya tindakan tegas dari dinas kesehatan setempat terhadap para terapis bekam yang praktek belum mempunyai ijin / STPT ( Surat Terdaftar Pengobat Tradisional ). Adanya bimbingan dan pembinaan dari asosiasi bekam untuk melakukan pembinaan kepada para terapis bekam.

Untuk para terapis bekam, ayo semua ikut sertifikasi dan ijin resmi ke dinas kesehatan setempat. Dengan ijin resmi anda akan dapat fasilitas memasang papan nama resmi sebagai pengobat. Sehingga Anda lebih mudah dalam mengenalkan diri anda ke masyarakat sebagai ahli bekam.

Jadi dengan praktek bekam yang ijin resmi ke dinas kesehatan semua akan lebih baik. Kami – komunitas bekam sinergi – melalui artikel ini siap mendukung penuh program sertifikasi bekam di Indonesia.

MENGAPA BEKAM LEBIH PAS DIBAHAS DENGAN ILMU PENGOBATAN TRADISIONAL

Kalau kita mau sejenak menengok sejarah, bekam ini ada sejak ribuan tahun yang lalu. Bekam telah dikembangkan dan dipraktekkan oleh bangsa Mesir, Yunani dan Cina.

Secara ilmu kedokteran modern belum banyak penelitian yang mengungkap bagaimana cara kerja bekam sehingga menyehatkan tubuh. Meskipun sudah ada bebarapa teori yang menyebutkan bekam akan meningkatkan dan melancarkan peredaran darah. Dari sisi ini misalnya bekam akan membuat vasodilatasi pembuluh darah, maka semua organ yang ada didalam tubuh akan sehat karena mendapatkan suplai darah yang cukup.

Tetapi ada yang unik jika kita memandang bekam dari sisi kedokteran tradisional. Dalam kedokteran tradisional darah jadi lancar jika yang pertama energy pompa jantung cukup, yang kedua darah lancar jika tidak ada sesuatu yang menghambat, misalnya: unsure dingin atau unsure panas. Yang ketiga fungsi limpa yang baik sehingga ia akan menjaga darah supaya tetap dalam pembuluh darah.

Maka jika dilihat dari sisi kedokteran tradisional belum tentu seseorang yang di bekam basah itu akan selalu akan memberikan efek melancarkan peredaran darah. Karena boleh jadi seorang itu mengalami darah yang mandek atau stagnan karena factor dingin yang ekses didalam tubuh sehingga dingin itu mengerutkan meridian sehingga jalannya darah jadi tidak lancar.Yang kedua darah yang stagnan karena tubuh kekurangan energy sehingga pompa jantungnya jadi lemah. Hal ini yang akhirnya membuat darah tidak lancar.

Jika darah yang tidak lancar karena panas yang ekses, maka dengan berbekam basah akan mengeluarkan unsure panas yang berlebih tadi sehingga membuat peredaran darah jadi lancar. Pada kasus inilah bekam basah akan memberikan efek yang signifikan bagi pasien dengan keluhan yang terkait dengan panas ekses misalnya: ekses Yang hati, odem yang, dan semua penyakit dengan eksopatogen angin dan panas.

Kemudian didalam praktek membekam kita akan melihat angin yang keluar dari tubuh kita dengan wujud angin yang tertampung di kop saat pembekam. Ini menunjukkan bahwa bekam mengeluarkan angin dan darah. Di dalam medis belum menemukan istilah angin, padahal banyak orang awam yang sudah tahu istilah “masuk angin”.Jika masuk angin, maka secara logika yang sederhana harus dikelurakan anginnya. Tinggal melihat angin yang masuk bersama pathogen apa? Misalnya dengan pathogen panas maka kita sebut dengan angin panas. Jika dengan dingin kita sebut angin dingin dan lain sebagainya.

Bekam basah sangat coccok untuk angin panas, bekam api sangat cocok untuk angin dingin. Bekam kering untuk angin kering .

Maka menurut hemat kami bekam ini akan memberikan efek yang signifikan jika kita menggunakan diagnose kedokteran tradisional sebagai akhir pengambilan keputusan pasien dilakukan tindakan pembekaman basah.
Ilmu medis juga sangat diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tindakan terapi dan mengevaluasi hasil terapi dengan alat bantu diagnose yang begitu canggih. Itulah kiranya bahwa ilmu ini akan semakin memberikan hasil yang terbaik jika kita sinergikan bersama antara medis modern, tradisional dan Thibbun nabawi. [Ali Ridho]

Dokter bekam Vs Dokter ‘beneran’

Bekam bukanlah perkara yang mudah. Butuh serangkaian proses yang harus dilakukan sebelum seorang terapis menyimpulkan pasien A diterapi dengan bekam basah, pasien B harus bekam kering, atau pasien C harus dengan bekam Api. Terapis masih harus melakukan pengamatan yang mendetail untuk mendapatkan diagnosa yang jitu, ya selayaknya dokter ‘beneran’.

Seorang dokter dituntut agar benar-benar memiliki alas an dalam tindakannya. Misal saat mau melakukan operasi, betul-betul di pilih otot mana yang mau diberikan tindakan, dan mekanis terbaik apa yang bisa ditempuh. Sama-sama otot pada area paha, bisa jadi berbeda tindakan terbaiknya atau saran solusinya.
Sikap ‘dokter beneran’ inilah yang selayaknya menjadi mindset para juru bekam (JURKAM). Saat jurkam memilih menentukan pemilihan bekam basah, harus benar-benar punya alasan bahwa pasien memang secara sunnatullah memerlukan tindakan terapi berbentuk bekam basah. Tidak boleh seorang terapi semata-mata hanya beralasan, “wah ini sunnah, pokoknya sunnah itu terbaik, jadi mari kita coba saja dengan bekam basah” atau “Saya bekam basah karena ngikut sunah rosul, pasti ini pilihan terbaik”.

Belum lagi dalam hal pemilihan titik bekamnya. Terapis bekam harus punya alas an mengapa menggunakan 1 kop saja atau 12 kop atau berapapun kop yang dipakai. Harus punya alas an yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan keahlian juga mengenai alas an mengekop pada lokasi atau titik tertentu.

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya meragukan apalagi membantah hadist betapa afdholnya manfaat bekam bagi kesehatan sebagai mana yang sudah diterangkan, akan tetapi segala sesuatu tidak bisa dipahami secara brutal meski ada niat yang baik. Saya yakin, haqqul yakin bahwa pengobatan bekam adalah pengobatan terbaik bagi umat manusia. Namun, sebagai bahan diskusi perhatikanlah fenomena penggunaan ayat suci Al Qur’an (dalam takaran ekstrem hitam-putih).

Ayat suci Al Qur’an dipegang oleh para hamba Allah yang hatinya bersih, aqidahnya lurus, ibadahnya bener, dan membacanya sesuai kaidah-kaidah syar’I bisa memberikan banyak manfaat salah satunya sebagai metode pengobatan ruqyah syar’iyyah. Berlawanan dengan hal itu, sama-sama pakai ayat al Qur’an akan tetapi yang menggunakan adalah seorang dukun, sama-sama yang dibaca misalkan surat Al Fatihah, yang terjadi benar-benar bumi dan langit. Al Fatihah itu digunakan oleh sang Dukun sebagai media /password mengundang jin yang kemudian dia gunakan untuk mencelakai seseorang.

Demikian pula dengan bekam. Ditinjau dari sisi manfaat, tidak usah diragukan lagi. Bekam sangat bermanfaat bagi kesehatan umat manusia. Hadist-hadist rasulullh telah banyak mengungkapkannya serta riset medis maupun empiris mengenai manfaat positifnya pun sudah banyak. So, marilah kita sempurnakan bekam dengan lebih baik lagi. Kita bersama-sam mempelajarinya lebih serius. Terlebih lagi kita sudah mendakwahkannya sebagai salah satu bentuk ilmu kedokteran nabi. Malulah kita sama baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika kita sudah katakan ini dakwah ilmu kedokteran dari beliau, namun dimana ilmu dokternya? Apa itu sudah layak dikatakan ilmu dokter muslim? Se ‘cethek’ itukah (ilmu kedokteran nabi kok sebatas ngekop-ngekop saja)?

Cukuplah hadist rasulullah berikut kita jadikan motivasi, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Siapa yang menjalani profesi sebagai dokter namun sebelum itu tidak diketahui dia memiliki keahlian medis, maka dia menanggung kerugian” (HR. Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Majah dihasankan oleh Syaikh Albani). Dalam riwayat lain, “Siapa pun dokter yang melakukan praktek kedokteran pada suatu kaum tanpa diketahui dia memiliki keahlian dalam bidang kedokteran sebelum itu, lantas dia membahayakan pasien, maka dia menanggung kerugian” (HR. Abu Daud dihasankan oleh Syaikh Albani). Bismillah, mari belajar bersama,,, mari upgrade ilmu bersama,, mari kita gapai izzah ilmu bekam dan kaum muslimin kembali ke dalam pangkuan kita.

Insyallah tema makna “menanggung kerugian” dalam hadist di atas, akan kami bahas dalam tema “Ada Diyat yang harus di bayar dari kesalahan dokter”. Ringkasnya, dalam pengobatan jika sampai pasien meninggal, dokter tidak dikenakan qishash namun tetap wajib bayar diyat. Wallahu a’lam

Ma’roji:
Sabiq, Sayyid. 2009. Fikih Sunnah Jilid 4. Jakarta: Cakrawala Publishing.