Demensia : Sang Penyakit Lupa

Sudah menjadi pendapat umum bahwa pikun atau demensia hanya terjadi pada lanjut usia (Lansia), karena menjadi pikun dan renta bisa dikatakan sebagai bagian dari proses penuaan yang menjadi siklus hidup setiap manusia. Namun kenyataannya, demensia dapat terjadi pada siapa saja dan pada berbagai tingkat usia. Lantas, apa jadinya jika pikun melanda anak muda? Ketika Anda merasa cepat lupa pada hal-hal kecil, seperti lupa menepati jadwal kerja dan pertemuan, tidak ingat nama orang atau bahkan lupa meletakkan barang. Apakah ini tandanya Anda mengalami gejala demensia atau melemahnya daya ingat ? Tentunya fenomena pikun pada usia muda dan produktif merupakan hal yang sangat menakutkan. Proses ini berawal dari hal-hal kecil yang terlupakan dari jadwal harian yang berantakan, kondisi fisik yang menurun sampai akhirnya tidak sanggup lagi bekerja dan harus menghabiskan waktu di rumah.

Apa itu demensia?
Demensia diartikan sebagai suatu sindrom/kumpulan gejala yang disebabkan oleh berbagai latar belakang penyakit dan ditandai oleh hilangnya memori jangka pendek, gangguan fungsi mental, termasuk fungsi bahasa, mundurnya kemampuan berpikir abstrak, kesulitan merawat diri, perubahan perilaku, emosi labil, hilangnya pengenalan waktu dan tempat, tanpa adanya gangguan kesadaran dan situasi stres, sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan, aktivitas harian, dan sosial.

Demensia pada usia muda (young onset dementia) adalah timbulnya gejala demensia berupa penurunan kognitif dan memori pada orang dengan usia dibawah 65 tahun. Pada anak-anak, demensia terjadi karena penyakit genetik yang salah satu gejala utamanya adalah kerusakan kognitif, contohnya down syndrome.

Penyebab
Demensia dapat disebabkan oleh beberapa hal antara lain infeksi dalam waktu lama, pemakaian obat-obatan yang berlebihan, emosional yang meningkat, nutrisi yang kurang dalam waktu yang lama, serta trauma kepala yang berat. Infeksi dan obat-obatan dalam tubuh bersifat toksin/racun sehingga dapat menyebabkan masuk ke dalam pembuluh darah beredar keseluruh tubuh termasuk ke otak yang kemudian akan merusak sel otak.

Emosional yang berlebihan juga dapat menyebabkan terjadinya demensia, pada saat emosional tekanan darah akan meningkat dan bila tidak ada penanganan yang baik akan menyebabkan stroke, pada keadaan stroke tersebut menyebabkan gangguan fungsi motorik maupun sensorik atau lainnya. Sedangkan pada keadaan nutrisi yang kurang dari kebutuhan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan gangguan proses metabolisme yang berpengaruh pada produksi sel darah merah dan menyebabkan arteriosklerotik yang dapat menyebabkan stroke. Pada sel darah merah yang menurun akan menganggu suplai O2 ke dalam jaringan tubuh termasuk jaringan otak sehingga dapat menyebabkan iskemik otak.

Trauma berat pada kepala merupakan pencetus kerusakan sel-sel otak yang akan menyebabkan volume otak mengecil dan terjadi degerasi neuron sehingga akan menyebabkan gangguan fungsi otak. Beberapa jenis demensia dapat membaik, fungsi intelektualnya dapat kembali normal dengan pengobatan yang efektif ketika penyebabnya bukan karena proses degenerasi otak yang bersifat permanen.

Apa tandanya?
Menurunnya daya ingat adalah tanda penting dari demensia. Pada kondisi normal kita terkadang lupa meletakkan kunci ataupun kacamata, namun segera dapat kita temukan kembali tanpa respon yang berlebihan. Pada penderita demensia, kasus “lupa” ini menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas. Ketika seorang demensia kehilangan kunci, kacamata atau dompet maka respon yang muncul dapat berupa panik berlebihan, menyalahkan orang lain telah mengambilnya atau memindahkan barang tersebut. Ketika benda-benda yang dicari dapat ditemukan, mungkin saja respon yang muncul berikutnya adalah mereka tidak mengerti apa kegunaan kunci, kacamata dan dompet itu, mereka kadang terlupa untuk apa mereka memerlukan benda-benda itu. Gangguan orientasi waktu dan tempat, ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali juga adalah tanda dari demensia. Ekspresi yang berlebihan juga ditunjukkan oleh orang dengan demensia. Mereka akan menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, begitu pula akan marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain. Penderitapun kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul seperti: rasa takut dan gugup yang tidak jelas penyebabnya.

Pencegahan yang bisa dilakukan
Sampai dengan saat ini demensia belum dapat disembuhkan, pengobatan dan perawatan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi tanda dan gejala serta mengoptimalkan kemampuan yang masih dimiliki, hal ini diharapkan dapat menurunkan laju kerusakan otak yang dialami penderita demensia. Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah dengan menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak. Secara teknis dua hal diatas dapat kita lakukan dengan mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan ke dalam sistem tubuh kita. Selain itu, bisa juga dengan mengoptimalkan fungsi otak dengan membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari, Mengurangi stress dalam pekerjaan dan berusaha untuk tetap relaks dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat otak kita tetap sehat dan melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif salah satunya dapat dilakukan dengan memperdalam ilmu Din. InsyaAlloh.. (Firdausya, Edisi 15/Juni 2010/1431 H)

Maroji’ :
• www.kamusilmiah.com
• www.medicastore.com
• Buku Diagnosis Dini dan penatalaksanaan Demensia oleh Kelompok Studi Neurobehavior PERDOSSI.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *