Menanti Buah Hati

Yarobbi.com | Bulletin Ash-Sahihah | Menanti Buah Hati

Menanti Buah HatiMenanti Buah Hati, Setiap fase dalam kehidupan kita biasanya akan mengundang banyak pertanyaan, baik dari diri sendiri ataupun orang lain. Termasuk ketika sudah memasuki tahapan berkeluarga, pertanyaan yang sering dilontarkan biasanya adalah, “Sudah punya momongan atau belum ?”. Bagi sebagian pasangan, pertanyaan tersebut merupakan hal sensitif, terutama untuk wanita. Apalagi jika usia pernikahan sudah masuk hitungan tahun.

Menanti Buah Hati

(Bukan) Salah Wanita
Selalunya, wanita lebih sering dipermasalahkan dalam urusan belum hadirnya buah hati, wanita juga yang cenderung akan lebih merasa bersalah, tidak sempurna, dll. Padahal, fertilitas (kesuburan) dan infertilitas (mandul) sebenarnya merupakan kemampuan sepasang suami-istri sebagai satu kesatuan biologik. Mungkin karena wanita memiliki banyak organ reproduksi, sehingga lebih banyak faktor kemungkinan penyebab infertilitas dibandingkan dengan pria. Adapun sebab medis pada wanita bisa karena adanya masalah pada vagina, lendir serviks, uterus (rahim), tuba (saluran telur), ovarium dan kelainan hormon.
Selain sebab tersebut, bisa jadi juga karena faktor psikis yang notabene pengaruhnya berhubungan erat dengan kerja hormon. Secara general, sebab psikis ini terangkum menjadi dua yaitu ketidaksiapan mental menjadi ibu dan adanya masalah lain yang menyita pikiran. Ketidaksiapan mental menjadi ibu bisa karena materi yang belum memadai (finansial keluarga, belum punya rumah, dll) dan akhirnya memunculkan pikiran-pikiran takut tidak bisa membiayai kebutuhan anak atau menunggu mapan dulu (rumah sudah ada, mobil punya, dll). Sedangkan masalah lain yang menyita pikiran ini bisa berupa masalah dengan suami, pekerjaan, atau orang lain. Sama dengan wanita, infertilitas pada pria pun perlu dicek dari sisi medis dan psikologis.

Menanti Buah Hati

Pseudocysis
Menanti Buah Hati, Keinginan memiliki anak yang sangat besar bisa memunculkan kehamilan palsu atau Pseudocysis ( berasal dari bahasa Yunani dimana pseudes = false dan kyesis = pregnancy) adalah suatu kondisi dimana seorang perempuan merasa hamil, namun sebenarnya dia tidak hamil. Dalam keadaan ini, seorang perempuan akan merasakan gejala-gejala umum sama seperti yang dialami ibu hamil. Misalnya saja, tidak haid, perut semakin besar, mual, pusing dan payudara membesar. Tapi, jika diperiksa secara medis, misalnya tes urin, akan diketahui bahwa ternyata tidak hamil. Adanya tiga hal yang tidak ditemukan dalam kehamilan palsu: denyut jantung janin tidak terdengar, USG tidak memperlihatkan adanya bayi dan yang terakhir jelas saja nggak bakalan melahirkan bayi.
Kejadian yang paling terkenal untuk contoh kehamilan palsu adalah Marie Tudor, anak perempuan Henry ke VII dan Isteri dari Louis ke XII. Merupakan kasus hamil palsu yang terkenal dalam sejarah. Hal ini terjadi karena Marie Tudor sangat ingin punya anak untuk menyelamatkan muka ayahnya yang memancung semua selirnya yang tidak dapat mempunyai anak. Penyebabnya diduga gangguan psikologis, dimana seorang wanita mempunyai keinginan yang kuat untuk hamil, menterjemahkan perubahan-perubahan kecil pada dirinya sebagai suatu kehamilan. Hebatnya lagi tes kehamilan bisa positf (false positif=positif palsu). Air susu juga bisa keluar. Keduanya terjadi lewat jalur hypothalamus-hypofise. Perut membesar akibat penumpukan lemak didinding perut. Gerakan gas dalam perut disangka gerakan bayi. Karena secara fisik kondisinya normal maka tidak dibutuhkan obat-obatan kecuali jika ingin memancing haidnya muncul kembali. Pengobatan hanya dilakukan konseling dengan psikoterapis.
Hal ini disebabkan karena pseudocysis bisa memicu kelenjar di dalam otak untuk menghasilkan hormon kehamilan, oxytocin. Meski penelitian mengenai masalah ini masih sangat sedikit, sejumlah pakar medis berkeyakinan, pseudocysis akut bisa meningkatkan hormon estrogen dan prolactin yang dapat mempengaruhi perubahan fisik menjadi seolah wanita hamil seperti perut membuncit, dan payudara mengeras karena peningkatan hormon tersebut. Wanita yang  memiliki risiko untuk mengalami kelainan ini:

  1. Wanita yang belum dapat anak pada usia akhir 30 atau awal 40 tahun.
  2. Wanita dengan kondisi emosi yang tidak stabil, terutama yang berhubungan dengan kehamilan.
  3. Wanita dengan riwayat abortus ataupun kematian janin sebelumnya.

Yang menarik mengenai kehamilan palsu ini dapat juga dialami oleh pria (penderita Couvade syndrome / sympathetic pregnancy), biasanya terjadi pada para suami yang sangat dekat dengan istrinya dan mempunyai simpati yang berlebihan sehingga mengalami tanda-tanda yang sama dengan kehamilan: morning sickness, emosi yang tidak menentu, ngidam, gangguan pencernaan, perubahan nafsu makan, dll.

Menanti Buah Hati

Hati Tenang, Buah Hati Datang
Adalah hak Allah untuk menentukan kapan akan memberikan rezeki anak kepada kita dan sudah menjadi kewajiban manusia untuk ikhtiar. Selain usaha medis, upaya lain yang juga sama pentingnya adalah menata psikis, yakni :

  1. Belajar ikhlas. Dalam kasus-kasus infertilitas, pasangan yang terlalu menggebu menginginkan kehamilan justru malah sering menemui kegagalan. Ketika diteliti, mereka ini  dilanda stres, tubuh istri menghasilkan hormon-hormon stres yang justru menghambat ovulasi. Komposisi hormon LH (luteinizing hormone) dan FSH (follicle stimulating hormon) menjadi tidak seimbang sehingga mengacaukan jadwal menstruasi. Akibatnya, sel telur pun luput terbuahi. Menghadapi kondisi seperti ini, sikap ikhlas justru adalah sikap terbaik. Ikhlas di sini bukan sikap putus asa lalu stop berusaha. Yang terbaik adalah tetap melakukan hubungan intim pada masa subur, menjalani hidup sehat dengan tidak merokok serta tidak minum minuman keras, mengonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat serta rajin olahraga.
  2. Tenangkan diri. Dzikir adalah bentuk latihan mengendalikan diri serta menghilangkan pikiran-pikiran negatif. Sikap tenang membantu pasangan suami istri untuk bisa ikhlas dan lebih bisa menerima keadaan meski kehamilan tidak kunjung terjadi.
  3. Tidak menyalahkan. Daripada saling menyalahkan, cobalah mencari sisi positif dari masalah ini. Cari solusi dengan berkonsultasi pada ahlinya, apa yang menyebabkan ketidaksuburan?
  4. Bulan madu lagi. Sangat dianjurkan. Asalkan, benar-benar bulan madu. Hindari memikirkan pekerjaan atau masalah keluarga lainnya, bahkan jangan didorong keinginan kuat untuk hamil. Singkat kata, jalani saja sambil bernostalgia saat-saat indah menjadi pengantin baru.
  5. Pelarian yang benar. Hindari pelarian yang salah: istri tak kunjung hamil, suami sibuk clubbing sambil minum minuman yang malah merendahkan mutu sperma. Sementara istri  melarikan diri dengan sibuk belanja, larut dalam pekerjaan yang melelahkan dan sibuk wisata kuliner dengan makan sembarangan. Cari pelarian yang positif seperti: lebih menyayangi pasangan, banyak melakukan outing berdua pergi ke tempat-tempat pacaran dulu, belajar merajut atau menyulam, buat topi atau kaus kaki bayi.
  6. Anak pancingan. Memancing jiwa keibuan atau kebapakkan dengan latihan mengasuh anak oranglain. Akan lebih baik lagi jika mengasuh anak yatim karena keutamaannya. Nabi Muhammad SAW berkata:”Aku dan pengasuh anak yatim (kelak) di surga seperti dua jari ini.” (HR. Bukhari). Penjelasan: (Rasulullah Saw. menunjuk jari telunjuk dan jari tengah dan merapatkan keduanya). Dikesempatan lain, Rasulullah SAW berkata:”Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa orang yang mengasihi dan menyayangi anak yatim, berbicara kepadanya dengan lembut dan mengasihi keyatiman serta kelemahannya, dan tidak bersikap angkuh dengan apa yang Allah anugerahkan kepadanya terhadap tetangganya. Demi yang mengutus aku dengan hak, Allah tidak akan menerima sedekah seorang yang mempunyai kerabat keluarga yang membutuhkan santunannya sedang sedekah itu diberikan kepada orang lain. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, ketahuilah, Allah tidak akan memandangnya (memperhatikannya) kelak pada hari kiamat. (HR. Ath-Thabrani)

Menanti Buah Hati

Zakaria pun Sabar
Nabi Zakaria merupakan salah satu penyeru tauhid. Ketika sampai pada usia lanjut, beliau berpikir akan segera dijemput oleh kematian, maka beliau tenggelam dalam kesedihan. Alasan kedukaan dan kesedihan nabi Zakaria as adalah karena beliau tidak memiliki putera dan di antara orang-orang terdekat beliau tidak terdapat seseorang yang akan melanjutkan jalannya. Oleh karena itulah beliau sangat bersedih karena obor hidayah yang sejak dahulu menyala di dalam keluarganya dan turun menurun dari ayah-ayahnya akan padam. Akan tetapi, usia lanjut dan kemandulan sang isteri tidak menghalanginya berputus asa dari rahmat dan kasih Ilahi. Kesabaran beliau bisa kita lihat dalam surat Ali Imran : 37-41. Pada ayat 40, Zakariya berkata: “Ya Rabbku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?.” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” Subhanallah, begitulah balasan Allah kepada orang-orang yang beriman dan bersabar dengan takdir-Nya, Allah menghadiahi yang tidak mungkin terjadi menjadi kenyataan. Dalam Menanti Buah Hati Tetap ikhtiar dan dibarengi do’a, “Robbi habli milladunka dzurriyyatan thoyyibah”. Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Pendengar doa dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *