Pemanfaatan Kurma dalam Sunnah Nabi

Berbuka Puasa dengan Kurma
Diriwayatkan dari Anas r.a. bahwa ia menuturkan, “Rosululloh s.a.w. biasa berbuka puasa dengan beberapa butir kurma basah sebelum sholat. Kalau tidak ada kurma basah, beliau berbuka dengan beberapa kurma kering. Kalau kurma kering pun tidak ada, beliau berbuka hanya dengan beberapa teguk air putih.”

Kurma sangat dianjurkan sebagai hidangan untuk berbuka puasa. Ada hal yang sudah ditetapkan dalam bidang kedokteran bahwa zat gula dan air merupakan zat yang pertama kali dibutuhkan orang berpuasa setelah melalui masa menahan makan dan minum. Kurma mengandung 70,6% zat gula (yang sederhana, mudah dicerna, hanya membutuhkan waktu ± 5-10 menit untuk diserap tubuh) dan 33% air.

Hal ini berbeda dengan orang berpuasa yang langsung mengisi perutnya dengan makanan berat ketika berbuka. Padahal ia membutuhkan tiga jam atau lebih agar pencernaannya dapat menyerap zat gula dalam makanan tersebut. Oleh karena itu, orang yang langsung menyantap makanan berat ketika berbuka puasa dapat tetap merasakan fenomena kelemahan dan gangguan-ganguan jasmani akibat kekurang zat gula dan air.

Mentahnik Bayi yang Baru Lahir dengan Kurma
Diriwayatkan dari Abu Musa bahwa ia menuturkan, “Suatu hari anakku lahir, maka aku pun membawanya menemui Rosululloh s.a.w. Lalu beliau memberinya nama Ibrohim, dan mentahniknya dengan sebutir kurma kering.“

Tahnik (suapan pertama) dilakukan dengan mengunyah kurma dan sejenisnya, lalu kurma yang sudah dikunyah digosok-gosokkan ke dalam langit-langit mulut bayi. Tahnik sebaiknya dengan kurma kering, jika tidak ada, bisa dengan kurma basah, jika tidak ada, bisa dengan madu.

Setelah bayi lahir, ia kehilangan pasokan makanan yang biasanya diperolehnya dari ibunya lewat ari-ari (placenta) dan tali pusat. Sekarang ia bergantung pada air susu ibunya. Namun, sering kali ASI tidak bisa langsung keluar, bisa membutuhkan waktu 1-3 hari. Untuk bisa bertahan, ia harus mengandalkan sisa energi yang tersimpan dalam tubuhnya. Melalui tahnik inilah seorang bayi memperoleh energi sampai ia memperolehnya dari air susu ibunya.

Author is dr Achmad Ali Ridho Akp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *