Realitas Malpraktek dalam Bekam

Banyak kasus Malpraktek bekam terjadi di masyarakat sebab kekurangantahuan para pembekam dalam mendiagnosa sebuah penyakit. Banyak dari terapis yang belum memahami tentang konsep dasar pengobatan thibbun nabawi bahwa bekam, madu dan habbatusauda itu hanyalah sebuah terapi/ bentuk penatalaksanaan terhadap suatu penyakit.

Bekam bukan sebuah ilmu pengobatan yang membahas tentang etiologi/ penyebab penyakit, pathogenesis/ perjalanan terbentuknya sebuah penyakit, gejala klinis sebuah penyakit, bagaimana mendiagnosa sebuah penyakit, bagimana memberikan edukasi ke pasien tentang pencegahan terhadap penyakit dan lain-lain. Yang semua itu adalah sebuah rangkaian ilmu yang harus kita ketahui terlebih dahulu untuk melakukan sebuah tatalaksana penyakit terhadap seseorang. Tetapi yang ada di masyarakat adalah kondisi yang berkebalikan. Terapis sudah bisa membekam tetapi tidak tahu tentang penyakit.

Misalnya kita menanyakan kenapa anda membekam pasien ini? Terkadang banyak dari kita (terapis) yang tidak bisa menjelaskan. Alasannya karena pegel-pegel, maka saya bekam. Padahal kalau kita mengilmu tentang konsep penyakit, pegel-pegel bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena kurang darah, stagnasi energi atau serangan angin luar. Kalau pegel-pegel karena kurang darah seharusnya tidak dibekam, sebab terapi bekam pada pasien jenis ini secara keilmuan tidak akan memberikan kesan kesembuhan.

Beberapa contoh real terjadinya malpraktek di masyarakat, yaitu

CRF di bekam basah
suatu ketika saya dipanggil ke rumah pasien yang mengalami sakit CRF ( Chronic Renal Failure/ gagal ginjal kronis ). Saya menanyakan kepada pasien, “pernah di terapi apa saja?”. Beliau menjawab, “saya rutin berbekam”. Maka waktu itu saya geleng-geleng kepala. Kenapa pembekamnya tidak tahu kalau pasien tadi harusnya tidak di bekam. Karena kondisinya anemia dan lemah, dengan kaki yang membengkak. Inilah yang saya khawatirkan akan semakin memperburuk citra bekam di masyarakat yang mereka meyakini bekam adalah pengobatan Nabi. CRF menurut TCM adalah kondisi ginjal dengan sindrom Yang Xu Ginjal dan Qi Xu limpa (tetapi tidak semua CRF kondisinya seperti ini).

Seorang laki-laki dibekam pingsan
Kalau kita tidak mengenal TCM maka kita tidak tahu tentang konsep energi dalam diri seseorang. Boleh jadi pasien tersebut mempunyai tekanan darah yang cukup, tetapi energinya sangatlah lemah.

Pada pemeriksaan lengkap menurut kaedah pemeriksaan dalam konsep bekam sinergi, pasien tersebut memiliki tensi yang normal, merasakan dingin pada kakinya, pinggang yang pegel-pegel, buang air besar cenderung lembek, sering kencing pada malam hari dan saat tidur, serta batuk pada pagi hari. Lidah tampak gemuk, berair, dan penuh dengan selaput putih tebal kotor. Nadi teraba lambat dan dalam dengan nadi Ce yang lemah bahkan cenderung tidak teraba.

Lalu apa yang terjadi sebenarnya, kog ada pasien yang dibekam malah pingsan? Pada kasus pasien ini, karena kita tidak menggunakan teknik diagnosa yang disinergikan dengan TCM dan terburu membekam, diagnosa TCM nya adalah Shen Yang Xu / Yang ginjal yang lemah. Maka ketika dibekam, pasien jatuh pingsan. Bercermin dari kasus malpraktek ini hendaklah kita sebagai ahli terapi bekam menyadari pentingnya sinergi antara ilmu mendiagnosa dan pengaplikasian terapi bekam yang diajarkan di thibbun nabawi, medis modern, dan TCM terhadap kasus yang dihadapi oleh pasien-pasien kita.

Seorang pasien batuk tidak sembuh-sembuh dengan metode bekam
Selama praktek bekam kurang lebih 2,5 tahun saya banyak menjumpai pasien dengan gejala batuk yang tidak sembuh dengan bekam. Setelah saya analisa kebanyakan pasien batuk yang tidak sembuh dengan bekam adalah batuk dengan sindrom Qi paru lemah, sindrom angin dingin menyerang paru, dan sindrom dahak lembab paru.

Sebagai informasi, sama-sama mempunyai gejala batuk tetapi ada yang sembuh dengan bekam dan ada yang tidak sembuh dengan bekam. Sebab istilah penyakit batuk yang kita dapati dari diagnosa medis modern, dalam ilmu kedokteran pasien bisa dibedakan berdasarkan sindromnya. Sekali lagi kita jangan mempermasalahkan apa nama penyakitnya, perhatikan sindrom penyakitnya. Misalnya, Pada pasien batuk dengan sindrom kelemahan Qi paru, terapi bekam yang diberikan kepadanya justru akan memperparah penyakitnya.

Seorang dengan hipertensi yang tidak kunjung sembuh dengan bekam
Banyak kasus pasien dengan hipertensi tidak dapat turun tensinya dengan bekam. Meskipun banyak juga yang bisa sembuh dengan berbekam. Hipertensi yang mempunyai sindrom Qi Limpa lemah, Yang Xu limpa dan lembab dingin menyerang limpa susah mengalami kesembuhan kalau dilakukan pembekaman. Hanya pada hipertensi yang memiliki sindrom panas yang bi idnillah efektif manakala kita berikan terapi bekam kepadanya.

Seorang terapis bekam kejang dua kali setiap habis di bekam istrinya.
Kasus malpraktek ini adalah kejadian nyata yang membuat saya terkejut. Dua orang pasangan suami istri datang ke tempat saya praktek. Beliau berdua adalah praktisi bekam. Datang dengan keluhan utama kejang setelah dibekam oleh istrinya.

Keluhan tambahan dan tanda yang saya dapatkan adalah pasien mengeluhkan dada terasa panas, kaki sering kedinginan sehingga sering harus pakai kaus kaki, pinggang pegal-pegal, ulu hati sakit, mulut terasa pahit, sering merasakan gejala seperti perut perih, mual dan muntah. Tanda yang didapatkan pada muka= muka tampak kehitaman. Bentuk lidah= gemuk, berair , selaput tebal, dan kotor. Dari data-data yang telah saya sebutkan, saya mendiagnosa secara umum pasien bahwa pasien ini sebenarnya terkena sindrom dingin dan lemah. Sindrom dingin dan lemah merupakan salah satu kondisi yang kontraindikasi bila dibekam.

Malpraktek dalam penggunaan habatussauda
Sehubungan dengan fenomena malpraktek pada terapi bekam yang ada, juga terdapat di dalam penggunaan Habbatussauda (nigella sativa). Habbatussauda adalah herba thibbun nabawi yang sangat terkenal untuk menyembuhkan banyak penyakit. Tetapi ternyata juga sama fenomenanya dengan bekam. Ada pasien hepertensi yang sembuh dengan meminum habbatussauda , ada yang tidak. Ada pasien dengan kolesterol, gula dan asam urat yang sembuh dengan meminum habbatussauda ada yang tidak. Ada pasien vertigo dan migren yang sembuh dengan meminum habbtussauda dan ada yang tidak sembuh. Dan banyak penyakit lainnya dengan fenomena yang sama.

Dari uraian di atas dapat penulis ambil kesimpulan bahwa bukan obat habbatussauda atau bekamnya yang salah. Tetapi kita yang sebagai juru pengobatan yang salah diagnosa, sehingga kurang tepat saat mereferensikan obat. Jika kita kembalikan dalam konteks hadist, penyakit yang tidak tepat mendapatkan obatnya, maka secara sunnatullah tidak akan terjadi kesembuhan. Sebab obat tidak mengenai tepat mengenai penyakitnya. Jabir radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim no. 5705)

Memang benar bahwa rasulullah saw telah bersabda bahwa, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5678). Dengan tidak bermaksud mensyarah hadist di atas, kita dapat mengambil pemahaman dari hadist tersebut bahwa memang benar setiap penyakit ada obatnya. Namun obat tersebut hanya diketahui oleh orang yang memang mengetahuinya. Perhatikanlah hadist Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. (Hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453).

Sebagai manusia, kita mempunyai tugas belajar mengenai penyakit. Obat semua penyakit sudah Alloh turunkan semua di dunia ini. Tinggal manusia berikhtiar untuk mempertemukan (menganalisa dan mendiagnosa) penyakit dan obatnya sehingga -dengan ijin Alloh- diperolehlah kesembuhan. Oleh karena itu, kiranya kita harus benar-benar belajar diagnosa penyakit. Tidak hanya dengan satu teknik diagnosa dalam thibbun nabawi saja, namun dengan menggabungkannya dengan modern medicine dan TCM. Dan ini lah konsep bekam sinergi. Wallahu a’lam.

Author is dr Achmad Ali Ridho Akp
mau lebih banyak kajian tentang bekam sinergi? main aja ke yarobbi.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *