RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

Yarobbi.com | Bulletin Ash Shihah | RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

(dr. Neni S)
Seorang teman terdapat benjolan ditubuhnya, dia berusaha mendapatkan kesembuhan dari Alloh dengan mendatangi sebuah klinik herbal, berbagai obat herbal telah dikonsumsinya. Namun benjolan ditubuhnya pun masih tetap tidak menunjukan perubahan kearah yang diharapkan. Akhirnya benjolan yang semula tidak menimbulkan rasa sakit itu, lama kelamaan menjadi sakit dan membuat si pemilik badan sudah tidak kuat menahan sakitnya. Si sakit meminta temannya diantar ke dokter ahli di Rumah Sakit, untuk mengetahui diagnosa pasti akan benjolan yang ada ditubuhnya secara medis. Diagnosa dokter mengatakan benjolan tersebut adalah kanker ganas. Dokter ahli menyampaikan pesan, agar kanker teman saya ini segera diambil, “dengan menunda 1 hari pengambilan saja berarti mengurangi 1 bulan umur anda” demikian ujar si dokter ahli.
Dengan melihat manfaat dan madhorot yang akan didapat jika benjolannya dioperasi, si sakit teman saya ini berusaha mencari pengobatan yang lebih ringan side effect nya dari pada sebagian tubuhnya diambil, dengan mendatangi kembali klinik herbal dimana dulu dia berobat dengan membawa hasil pemeriksaan lengkap rumah sakit. Dokter yang berpraktek di klinik herbal pun tidak berlepas tangan begitu saja, dokter herbal tersebut membawa si sakit ke herbalis yan lebih ahli. Namun herbalis tersebutpun menyarankan untuk dioperasi dulu baru di recovery dengan herbal. Tidak berhenti sampai disini perjalanan si sakit dalam mencari pengobatan yang tepat untuk dirinya. Berbagai terapi non medis terstandar battra (obat tradisinal) pun telah dilakoninya. Namun hasilnya belum signifikan, adapun denan pengobatan herbal timur yang hasilnya lumayan signifikan berharga ratusan juta rupiah.
Akhirnya si sakit mengembalikan pengobatan atas dirinya kepada pengobatan medis di rumah sakit dengan menjalani operasi. Dengan mempersiapkan diri akan  side effect yang akan dia terima setelah di operasi. Subhanalloh, dengan menggantungkan penyembuhan kepada Alloh saja, berikhtiar semaksimal mungkin mencari jalan yang terbaik untuk mendapatkan pengobatan yang tepat atas ujian yang Alloh berikan kepada si sakit. Keputusan yang tepat antara menyetujui advise dokter ahli dan berusaha mencari pengobatan alternative kepada dokter herbal menjadi runtutan usaha yang semua bernilai ikhtiar berharap penyembuhan yang datangnya dari Alloh saja. Ikhtiar seorang manusia ketika dia sakit adalah sebuah keharusan , kewajiban mutlak bagi seorang muslim yang mewajibkan ummatnya berikhtiar atas segala permasalahan hidup yang menimpa hidupnya. Baik, masalah ekonomi, masalah persengketaan, maupun masalah kesehatan.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Perlu kita renungkan dalam kehidupan kita apakah kita menggunakan “Pengobatan untuk Agama” atau “Agama untuk Pengobatan “. Dalam kerangka beribadah kepada Alloh, menjelajah, meneliti, mengurai banyak permasalahan, menemukan jawaban atas model masalah semuanya dipersembahkan dalam rangka beribadah kepada Alloh saja. Inilah wujud aktualisasi pernyataan “Pengobatan untuk Agama”
Namun ketika kata kunci “Agama untuk Pengobatan“ maka yang terjadi adalah berhentinya proses menggunakan akal untuk sesuatu yang tidak mutlak. Ketika pengobatan sudah diberikan maka kita tidak mau lagi mengeksplorasi keanekaragaman hayati disekitar kita yang masih banyak manfaat untuk kita. Ilmu pengobatan bukanlah ilmu yang tsawabit (perkara yang tetap dan baku menurut agama). Namun ilmu pengobatan bersifat mutaghoyyirot (perkara dinamis dan bisa berubah), dimana umat islam bisa memaksimalkan potensi yang ada untuk mengembangkan ilmu pengobatan yang dibutuhkan untuk kesehatan dan kemajuan umat islam itu sendiri.

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

Thibbun Nabawi (Ilmu Pengobatan Nabi)
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Dalam thibbun nabawi kita mengenal tokah tokoh bernama Ibnu Sina, Ibnu Qoyyim Al jauziyah,  Adz Dzahabi, As Suyuthi.  Berangkat dari berbagai hadits Nabi, yang memerintahkan eksplorasi tata cara pengobatan. Diantaranya : “Alloh tidak menciptakan suatu penyakit tanpa menciptakan pula obatnya” (HR. Bukhori) “ Setiap penyakit ada obatnya. Ketika obat yang diberikan tepat, penyakit itu tersembuhkan dengan izin Alloh Yang Maha Kuasa” (HR. Muslim). “ Nabi Muhammad, mengunjungi seorang laki-laki yang sedang sakit dan berkata, panilkan seoran tabib (dokter) untuknya! “oran sakit itu berkata,“ Ya Rosululloh, Engkau benar benar mengatakan itu?” Beliau menjawab, “Ya, benar” (HR. Abu Nu’aim). “Kesembuhan itu terdapat pada 3 hal, yakni minum madu, sayatan alat bekam, dan kayydengan api. Tetapi aku melarang umatku dari kayy”.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Thibbun Nabawi yang dipraktekkan hari ini adalah berdasarkan pemahaman hadits hadits Nabi yang di eksplorasi lebih jauh menjadi manifestasi pengobatan berupa bekam, minum madu, rukyah, dzikir, dan herbal tanaman hayati lain yang sering di klaim juga dari Nabi. Padahal itu merupakan eksplorasi jamu tradisional yang juga merupakan eksplorasi pemikiran manusia untuk mewujudkan kesembuhan pada manusia.Yang itu semua juga diperbolehkan dan dianjurkan dalam agama.

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?

 Medis Modern
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Pengobatan kedokteran medis adalah kedokteran berbasis bukti empiris dan penelitian yang cukup lama. Secara umum, terdapat  area kedokteran berbasis bukti yang terpisah, tapi saling tergantung. Pertama, merawat pasien sesuai literature yg tepat. Kedua, peninjauan kembali literature medis oleh para pemikir medis, dan pemngumpulan jurnal untuk pembelajran bagi terapis medis yang sangat bergantung pada pribadinya masing masing. Semua tindakan dalam dunia medis harus terbukti secara nyata secara numeric maupun data yang pasti. Medis modern didapat dari para ilmuwan yang mengeksplorasi kimia modern untuk kepentingan pengobatan.
Kimia berasal dari bahasa arab “Al- kimia”, yang berarti seni perubahan bentuk, ilmu inipun ditemukan oleh ilmuan muslim. Asal usul kimia dapat dirunut kepada praktik yang dikenal sebagai Al-Kimia, yang telah diterapkan beberapa abad yang lalu, khususnya di dunia islam/arab. Ilmu ini mempelajari reaksi antar zat kimia, baik di dalam tubuh seperti kimia organic maupun non organic.

RESEP NABI atau RESEP DOKTER?
Mana yang lebih baik, obat kimia atau obat tradisional……?
Selama ini obat herbal atau jamu tradisional dianggap sebagai obat tanpa efek samping, benarkah? Bukankah sari tanaman atau obat tradisional juga barang asing yang masuk ke dalam tubuh diluar kebiasaan makanan seseorang. Obat herbal ditemukan berdasar kebiasaan orang orang zaman dahulu yang belum diketahui efek farmakologinya di dalam tubuh. Namun, kebiasaan itu bisa digunakan sebagai rujukan yang sebenarnya bisa dituliskan secara empiris dan detil sehingga menjadi sebuah ilmu pengobatan herbal/jamu yang terstandar. Sebagai gambaran, kunir dikenal dapat digunakan untuk mengobati diare. Diare yang seperti apakah yang bisa sembuh dengan minum sari kunir? Seberapa sering diarenya? Bagaimana konsistensi fecesnya? Bagaimana kondisi umum pasiennya? Adakah tanda dehidrasinya? Dan berbagai penelitian lainnya. Layaknya herbal cina yang telah diketahui afinitas (cara dan arah kerja) herbalnya, yang didapat dari pencatatan oleh para tabib cina selama beratus-ratus tahun, dimana buku catatan itu akan diteruskan oleh murid muridnya hingga tidak terputus data penelitian tanaman atau obat herbalnya.
Maka, untuk ukuran medis, kemanjuran suatu obat tidak bisa dijadikan ukuran layak tidaknya obat itu dikonsumsi. Karena bisa jadi pengalaman seseorang berbeda dengan yang lain. Pengujian tersebut memilah obat tradisional menjadi 3macam :

  • ·Fitofarmaka (sudah lulus uji klinis)
  • ·Herbal terstandar (lulus uji preklinis)
  • ·Obat tradisional yang secara pengalaman sudah terbukti berkhasiat, namun belum ada uji klinis.

Sedang obat kimia yang beredar dan boleh dikonsumsi masyarakat maupun yang diresepkan oleh para dokter adalah obat yang telah lulus uji klinis.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER?, Maraknya praktek thibbun nabawi dewasa ini, banyak praktikan yang menganggap obat kimia semua tidak baik untuk tubuh manusia. Benarkah? Sedangkan dia sudah melewati uji klinis yang dibuktikan secara empiris. Walaupun label halal kebanyakan belum tercantum di obat kimia. Inilah tugas kaum muslimin yang mempunyai profesionalisme medis modern, untuk membuat standarisasi halal bagi obat kimia.
Mungkinkah resep nabi atau resep dokter didudukkan secara proporsional. Mungkin sekali…..!
Memang dibutuhkan tenaga medis maupun terapis herbal/thibbun nabawi yang mengerti karakteristik masing masing resep. Akhir akhir ini sudah mulai marak dilakukan penelitian terhadap berbagai tanaman herbal berkhasiat, sehingga masing-masing tanaman herbal dapat diketahui afinitasnya kearah organ mana didalam tubuh manusia. Seiring berjalan waktu mudah mudahan dapat dilakukan standarisasi pengobatan herbal dan thibbun nabawi. Begitu pula yang memakai medismodern, menganggap herbal sebagai suplemen gizi yang kebanyakan fungsinya dalah preventif bukan kuratif.
Namun ketika seorang terapis herbal maupun dokter medis mampu menjadi seorang komandan yang mampu mengamati perjalanan penyakit, apakah penyakit perlu dibasmi secara cepat seperti wabah. Ataukah penyakit lebih aman di hilangkan dengan cara perbaikan system tubuh. Ataukah luka itu harus dijahit, dan perlukah operasi dilakukan pada orang yang tepat. Maka kedua pengobatan ini akan berjalan secara proporsional sesuai dengan fungsinya.
RESEP NABI atau RESEP DOKTER? Muara dari semua ikhtiar itu adalah kesembuhan yang datangnya dari Alloh semata. Dan kesabaran menjalankan ikhtiar itulah yang akan menjadi amal sholih kemuliaan bagi yang menjalankannya.

wallahu’alam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *