STEPHEN JHONSON, Sakitnya Se“keren” Namanya

Mungkin belum banyak di antara pembaca yang mengenal penyakit ini. Stephen Johnson Syndrome (SJS), nama penyakit yang terlihat keren ini memang diambil dari nama penemunya. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat-obatan, virus atau bakteri ini memang perlu diwaspadai.

Kenalan dengan Stephen Jhonson
Steven Johnson Sindrome merupakan sindrom (kumpulan gejala) yang mengenai kulit, selaput lendir di orifisium (muara/lubang) dan mata dengan keadaan umum yang bervariasi dari ringan sampai berat. Adapun kelainan dapat berupa eritema (kemerahan pada kulit karena pelebaran pembuluh darah), vesikel/bula (gelembung pada kulit yang berisi cairan) dan dapat disertai dengan purpura (bercak-bercak perdarahan pada kulit/selaput lendir). Dalam kamus kedokteran Dorland didefinisikan sebagai bentuk eritema multiforme fatal (kemerahan yang banyak/menyeluruh) yang timbul dengan prodormal (gejala awal) seperti flu, ditandai dengan adanya lesi sistemik (kerusakan sistemik) dan mukokutan yang berat. Stephen Johnson Syndrome biasa disebut juga sebagai penyakit eritema multiforme mayor. Kejadia penyakit ini sebenarnya sangat jarang, tercatat hanya sekitar 2-3% per juta populasi di Negara Eropa dan Amerika. Lebih sering diderita oleh manusia di usia dewasa dibandingkan anak-anak.

Pencetus Stephen Jhonson
Faktor penyebab utama adalah alergi obat yakni dengan presentasi lebih dari 50%. Ketika mendapat pengobatan dari dokter, sering kali Kita tidak terlalu mempedulikan jenis obat apa yang diberikan. Sebagai pasien, kita hanya menyerahkan sepenuhnya kepada dokter apapun tindakan pengobatan yang akan dilakukan. Sering kali pula dokter tidak melakukan dialog dengan pasien mengenai sejarah kesehatan Si pasien. Ini dapat mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah alergi terhadap obat-obatan tertentu yang mengakibatkan terjadinya Stephen Johnson syndrome.

Obat-obatan yang dapat menyebabkan terjadinya SJS ini meliputi; obat-obatan anti kejang (seperti phenobarbitol), obat analgetik (pereda nyeri), antipiretik (penurun demam) sekitar 45%, sulfonamide atau obat-obat sulfa, obat anti peradangan non steroid termasuk antibiotic (seperti, amoxicillin, and tertracyclin). Faktor lainnya yang dapat menyebabkan yakni :
• Infeksi seperti virus, jamur, bakteri dan juga parasit.
• Faktor fisik seperti sinar x, sinar matahari dan musim/cuaca
• Penyakit kolagen vascular (serabut kolagen pembuluh darah)
• Neoplasma (keganasan)
• Kontaktan (hanya sebagian kecil)

Adanya reaksi hipersensitif dari sistem kekebalan tubuh akan memicu reaksi tubuh berupa hipersensitif tipe II (berdasarkan klasifikasi Coomb dan Gel). Adapun selanjutnya, karena adanya reaksi ini maka tubuh akan bereaksi dengan munculnya gejala-gejala awal. Adapun sasaran awal dari reaksi hipersensitifitas ini adalah kulit berupa destruksi keratinosit (perusakan lapisan keratin kulit)

Karakteristik SJS
Reaksi yang ditimbulkan oleh penggunaan obat-obatan ini biasanya terjadi dalam 2 minggu pertama setelah menggunakan obat. Mata akan membengkak, diikuti dengan sariawan pada mulut dan bibir. Penderita akan mengalami demam dan bintik merah pada kulit. Banyak penderita dan dokter yang tidak menyadari bahwa ini adalah gejala SJS. Kadang-kadang pasien menganggap bahwa mereka terkena flu biasa. Bahkan, dokter sering kali mendiagnosa pasien terkena cacar.

Gejala klinis yang khas yakni adanya Trias kalainan (3 kelainan) yakni :
1. Kelainan Kulit
Kelainan pada kulit berupa : eritema, vesikel, bula bahkan purpura. Kelainan biasanya bersifat generalisata (penyeluruh). Sifat dari eritema yakni berbentuk cincin (tenggahnya lebih gelap) biasanya berwarna ungu.

2. Kelainan Selaput Lendir pada Orifisium
Kelainan selaput lendir yang paling sering adalah di mukosa (lapisan tipis) mulut (100%), kemudian di alat genital (50%) sedangkan di lubang hidung atau anus jarang (8% dan 5%). Kelainan ini dapat berupa vesikel ataupun bula yang cepat sekali memecah sehingga terjadi erosi (kerusakn kulit yang dangkal) dan ekskoriasi (lecet/kerusakan kulit yang dalam) dan krusta yang hitam.

3. Kelainan pada Mata
Kelainan pada mata merupakan 80% di antara semua kasus. Dimana yang paling sering adalah konjungtivitis (radang pada konjungtiva)

Mengobati SJS
Langkah pertama untuk mengobati SJS yakni menjauhkan faktor penyebab/pencetusnya. Bila yang dicurigai adalah obat, maka hentikan konsumsi obat tersebut. Secara umum penangannya yakni mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh penderita dengan pemberian cairan infus karena umumnya penderita mengalami dehidrasi. Jika penderita mengalami koma, maka tindakan kedaruratan harus dilakukan yakni dengan menjaga keseimbangan oksigen harus dipertahankan.

Pengobatan khusus berupa pengobatan sistemik yakni dengan pemberian obat golongan kortikosteroid dosis tinggi seperti obat prednisone, dan deksametason. Pengobatan topical (luar/untuk kulit) yakni untuk bula dan vesikel yang memecah diberi bedak salisil 2%, kelainan yang basah dikompres dengan asam salisil 1%, kelainan pada mulut dikompres asam borat 3% dan konjungtivitis (radang konjungtiva) diberi salep mata yang mengandung kortikosteroid ataupun antibiotic.

Meskipun reaksi SJS yang akut bisa sembuh kurang dari satu bulan, tapi efeknya dapat mengakibatkan kerusakan permanen. Sekitar 15 -20 % penderita SJS yang mengalami kerusakan mata, dapat diatasi dengan pemasangan lensa scleral, (scleral adalah salah satu bagian organ mata). Di samping itu, penderita SJS juga dianjurkan untuk menggunakan krim pelindung matahari (sunscreen), karena mereka sangat rentan terkena kanker kulit.

Untuk mengembalikan system kekebalan tubuh yang rusak akibat SJS, pemberian suplemen dalam bentuk vitamin A, B, C, B kompleks, zinc sangat diperlukan. Vitamin A sangat penting untuk mata dan selaput lendir. SJS memang dapat menimbulkan akibat yang fatal. Namun masih tetap ada harapan. Olehkarenanya, setiap orang disarankan untuk berhati-hati mengkonsumsi obat-obatan. Jika sebelumnya pernah mengalami alergi akibat reaksi obat tertentu, walaupun alergi ringan, sebaiknya hindarkan mengkonsumsi obat tersebut dan beritahukan kepada dokter Anda. [Team Ash Shihah 4 yarobbi.com]

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Butuh Bantuan? Silahkan hubungi kami