TABAYYUN|Tips Ngobrol Lancar, Kurangi Misscom

” ..dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Al-Baqarah: 83). Islam agama sempurna, mengatur segala aspek kehidupan. Salah satu hal yang penting dalam hidup ini adalah berlangsungnya komunikasi sesama manusia dengan baik. Melalui komunikasi kita menemukan diri kita, mengembangkan konsep diri dan menetapkan hubungan kita dengan dunia di sekitar kita.

Hubungan dengan orang lain akan menentukan kualitas hidup kita. Akan tetapi, seringkali terjadi misscommunication dan bukan tak mungkin dapat menimbulkan perpecahan. Lalu bagaimanakah cara berkomunikasi yang baik dan benar agar suasana ukhuwah senantiasa terjaga?

Tanda Komunikasi Efektif

Apabila orang lain tidak memahami gagasan Anda, bila pesan Anda menjengkelkan mereka, bila Anda tidak berhasil mengatasi masalah pelik karena orang lain menentang pendapat Anda dan tidak mau membantu Anda, bila semakin sering Anda berkomunikasi semakin jauh jarak Anda dengan mereka, bila Anda selalu gagal untuk mendorong orang lain bertindak, Anda telah gagal dalam komunikasi. Komunikasi Anda tidak efektif. Stewart L.Tubbs dan Sylvia Moss dalam “Human Communication : An Interpersonal Perspective” menyebutkan paling tidak komunikasi yang efektif menimbulkan lima hal yaitu pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan.

Pengertian artinya penerimaan yang cermat dari isi pesan yang disampaikan seperti yang dimaksud oleh komunikator (penyampai pesan). Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication). Kesenangan, tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian.

Ketika kita mengucapkan, “Assalamu’alaykum.. Apa kabar ?”, kita tidak bermaksud mencari keterangan. Komunikasi ini lazim disebut komunikasi fatis (phatic comunication), dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan kita akrab, hangat dan menyenangkan. Bila kegagalan untuk menimbulkan pengertian disebut kegagalan komunikasi primer, maka gangguan hubungan manusiawi (hubungan menjadi tidak akrab) yang timbul dari salah pengertian disebut dengan kegagalan komunikasi sekunder (secondary breakdown).

Selain itu, paling sering kita melakukan komunikasi untuk mempengaruhi orang lain (komunikasi persuasif). Persuasi ini juga ditujukan untuk melahirkan tindakan yang dikehendaki. Menimbulkan tindakan nyata memang indikator efektivitas yang paling penting. Karena untuk menimbulkan tindakan, kita harus berhasil lebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik.

Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia.

Hukum Komunikasi Efektif

Prinsip dasar dalam berkomunikasi dapat kita rangkum dalam satu kata, yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, Humble), yang berarti merengkuh atau meraih. Hukum pertama dalam berkomunikasi adalah Respect, merupakan sikap hormat dan sikap menghargai terhadap lawan bicara kita. Kita harus memiliki sikap (attitude) tersebut karena pada prinsipnya manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita bahkan harus mengkritik seseorang, lakukan dengan penuh respect terhadap harga diri dan kebanggaan orang tersebut.
Hukum kedua adalah Empati, yaitu kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain.

Sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima. Prinsip dasar dari hukum kedua ini adalah ”Perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan.”

Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap siap menerima masukan atau pun umpan balik apa pun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efektif mana kala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik dari penerima pesan. Hukum ketiga adalah Audible. Maknanya yakni dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik.

Kunci utama untuk dapat menerapkan hukum ini dalam mengirimkan pesan adalah:

      Buat pesan Anda mudah untuk dimengerti.
      Fokus pada informasi yang penting.
      Gunakan ilustrasi untuk membantu memperjelas isi dari pesan tersebut.
      Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul.
      Selalu menyiapkan rencana atau pesan cadangan (backup).

Hukum keempat adalah kejelasan dari pesan yang kita sampaikan (Clarity).Sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada kualitas suara kita dan bahasa yang kita gunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti, akan membuat isi dari pesan kita tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang menganggap remeh pentingnya Clarity, sehingga tidak menaruh perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan.

Beberapa cara untuk menyiapkan pesan agar jelas yaitu:

      Tentukan goal-tujuan yang jelas.
      Penuhi tuntutan kebutuhan format bahasa yang kita pakai.
      Buat pesan Anda jelas, tepat dan meyakinkan.
      Pesan yang disampaikan harus fleksibel.

Hukum kelima dalam komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati (Humble). Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Dengan kerendahan hati kita dapat menangkap perhatian dan respons yang positif dari si penerima pesan.

Biasakan Tabayyun
Misscommunication atau salah persepsi dalam komunikasi memang tidak bisa sepenuhnya terhapus, tetapi paling tidak sebagai seorang muslim kita senantiasa membiasakan diri untuk tabayyun atau klarifikasi objektif. Sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minallah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayyun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Juga perintah Allah dalam QS. Al-Hujurat : 6, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Disini, yang harus diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang tersebut dalam Al-Mukminun: 3, “Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.”.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *