Akhlaq dalam Dunia Pengobatan

Saat ini, pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, rumah sehat, poliklinik, klinik dan praktek pribadi sudah menjadi salah satu kebutuhan mendasar. Masyarakat membutuhkan jasa profesional untuk menjaga kesehatannya. Tak pelak, bidang pelayanan kesehatan menjadi salah satu peluang bisnis.

Satu hal penting yang harus dihadirkan, yaitu niat yang ikhlas dalam melakukan pekerjaan. Mencurahkan kemampuan untuk mengobati orang sakit sampai membuahkan hasil sehingga dapat menghilangkan atau setidaknya meringankan keluhannya. Mewaspadai mental “yang penting menghasilkan uang”, tak peduli meskipun pasien tidak sembuh. Adalah wajar penyelenggara pelayanan kesehatan memiliki maksud duniawi, namun harus mengedepankan tujuan mulia dan manfaat bagi umat. Kita menyaksikan orang-orang kafir mampu memberi pelayanan kesehatan sampai ke kalangan papa, menyelesaikan tugas dalam waktu singkat, sehingga tidak heran jika popularitas dan citra baik pun disematkan. Kita kaum muslimin seharusnya lebih dituntut untuk tulus, ikhlas, tepat janji dan profesional dalam melayani.

Kepada setiap Pengobat…
Selalu ingatkan, bimbing dan nasihatilah orang yang sakit, jelaskan bahwa kesembuhan hanyalah dari Allah. Dialah yang menurunkan penyakit dan Dia pula yang akan menyembuhkannya kapan pun Dia berkehendak. Ingatkanlah kepada pasien agar memperbanyak dzikir dan taubat kepada Allah, memohon kesembuhan kepada-Nya, merendahkan diri serta ikhlas. Ingatkan pasien agar berwasiat, menyadari ajal, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati.

Kepada Para Perawat…
Ikhlaslah dalam beramal. Lakukan tugas dengan sebaik-baiknya, disiplin dan hadir saat diperlukan. Nasihatilah para dokter agar bekerja hanya mengharap ridha Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, mementingkan maslahat pasien, berlaku adil di antara mereka juga bersikap ramah terhadap kaum lemah dan fakir dan bersungguh-sungguh dalam melayani dan melaksanakan kewajiban terhadap mereka.

Kepada Para pasien…
Usahakan sejauh mungkin seorang muslim mencari pengobatan kepada pengobat muslim dan seorang muslimah kepada pengobat muslimah pula. Meskipun seorang wanita disertai mahramnya, tidak berarti laki-laki boleh melihat aurat wanita. Hal tersebut seolah menjadi perkara biasa yang tidak berdosa. Wanita pun terbiasa sehingga rasa malu dan sifat tertutupnya berkurang. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Al Ashr (103) : 1-3.

Semoga kita bisa menjadi manusia yang tidak merugi, mencintai nasihat yang datang kepada diri, menikmati kritik layaknya kripik. Jika seorang muslim benar-benar mencintai saudaranya, ia akan memberi nasihat bukannya pujian semata. Maka bila ada saudara menasihati, sadarilah itu adalah salah satu bentuk kecintaannya kepada kita. Wallahu a’lam..

Maroji’: Biar sakit, ibadah tetap fit. Solo: Aqwam, 2008. Judul asli: Al Fataawaa asy syar’iyyah fil masaa’il ath thibbiyyah karya Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al Jibrin.