Mahkota Dewa Bermata Dua

Dunia tanaman obat kini kedatangan pendatang baru yang lumayan hebat. Mahkota dewa namanya. Ia bisa membuat penderita penyakit ringan macam gatal-gatal, pegal-pegal, atau flu, hingga penyakit berat seperti kanker dan diabetes,merasakan kesembuhan.

Mengetahui khasiat tumbuhan satu ini, mungkin Anda segera berminat menanamnya. Betapa tidak. Tanaman ini ternyata punya khasiat luar biasa. Ia bisa menyembuhkan gangguan kesehatan dari yang ecek-ecek hingga yang nyaris tak ada harapan sembuh. Kalau cuma pegal-pegal, sehari dua hari bakal hilang. Flu? Wah, itu tugas yang juga bisa dibereskan dalam sehari dua hari.Diabetes pun bakal takluk dalam beberapa bulan.
Bagaimana dengan kanker? Meski butuh waktu bulanan, tanaman ini pun sanggup melawannya sampai titik darah penghabisan. Paling tidak itu berdasarkan pengalaman empiris banyak orang, termasuk yang merasa sembuh dari penyakit pada organ hati atau jantung, hipertensi, rematik, serta asam urat.

Untuk mengolahnya jadi obat pun sangat gampang. Cuma dengan menyeduh teh racik terbuat dari kulit dan daging buah, cangkang buah, atau daunnya, bahan obat alami ini pun siap dipakai. Kalau enggak menghendaki rasa pahitnya, kita bisa sedikit bersusah payah mengolahnya menjadi ramuan instan. Rasanya ditanggung lebih sedap tanpa mengurangi khasiat.

Itulah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa). Tanaman yang kabarnya berasal dari daratan Papua ini di Jawa Tengah dan Yogyakarta dijuluki makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Orang Banten menyebutnya raja obat, karena khasiatnya bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Sementara, orang-orang dari etnik Cina menamainya pau yang artinya obat pusaka.

Dari alergi hingga kanker
Sebagian orang mungkin pernah sekadar melihatnya, sebagian lagi mendengar namanya pun tidak pernah. Wajar bila selama ini sangat sedikit orang tahu mahkota dewa. Apalagi khasiatnya. Bahkan, di banyak lembaga penelitian yang menangani tumbuhan berkhasiat obat belum ditemukan hasil penelitiannya. Sampai saat ini, setidaknya baru dr. Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi, Universitas Gadjah Mada yang telah menelitinya. Itu pun masih terbatas pada pengujian terhadap efek antihistamin atau antialergi. Padahal, kalangan keraton Solo dan Yogyakarta telah lama mengenalnya dan memanfaatkannya sebagai tanaman obat. Beruntung, lama-lama manfaat luar biasa ini bocor ke kalangan awam.

Sekarang, tanaman ini seakan turun dari langit sebagai dewa penyelamat orang sakit. Berbagai kesaksian dikemukakan mereka yang telah merasakan khasiatnya. Dalam buku Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa karya Ning Harmanto, ketua Kerukunan Wanita Tani Bunga Lily, yang menekuni pengobatan dengan mahkota dewa, ada 26 orang yang mengakui keampuhannya atau ditulis berhasil sembuh dari sakitnya berkat mahkota dewa.

Di antara mereka adalah Tuti Ariestyani Winata, yang setelah menjalani operasi pengangkatan kista di rahim, mengalami kemunduran kondisi tubuh. Badannya kurus, perutnya membuncit seperti sedang hamil tua, jari-jari kakinya menggemuk, tekanan darahnya naik-turun, dan Hb-nya sangat rendah.

Beberapa dokter yang dikunjunginya memberikan diagnosis berbeda. Ada yang mendiagnosisnya menderita kanker hati, sirosis hati, dan ada pula yang menyatakan dia menderita hepatitis kronis. Tak kunjung memperoleh kepastian penyakit yang dideritanya, atas saran Ning, Tuti akhirnya mengonsumsi air rebusan daging buah mahkota dewa. Setelah enam bulan, Tuti merasa sembuh dan kondisi tubuhnya membaik kembali.
Selain Tuti, Diana yang berdomisili di Bekasi menyatakan berhasil sembuh dari penyakit kanker di payudara kanannya setelah menjalani operasi dua kali lagi untuk membersihkan kanker di payudara kirinya. Anna Winata di Bogor dan Retno di Bekasi juga merasakan sehat kembali dari sakit kanker rahim berkat mahkota dewa. Ny. Parlan di Balikpapan pun berhasil menormalkan kadar gula darahnya berkat tumbuhan obat ini. Masih banyak lagi contoh keberhasilan yang lain. Sayangnya, yang tidak berhasil tidak pernah terungkap, sehingga tidak bisa diketahui penyakit apa yang tidak mampu dilawan tanaman berbuah merah menyala ini.

Selama ini daun dan buah mahkota dewa dimanfaatkan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, sebagai obat penyakit kulit, gatal-gatal, dan eksim. Penyakit tersebut ditandai dengan gejala gatal-gatal, pertanda adanya alergi terhadap agen tertentu yang mendorong sel-sel tubuh mengeluarkan histamin.

Soal kemampuan melawan penyakit kulit ini Sumastuti sudah membuktikannya. Dari penelitian secara in vitro menggunakan usus halus marmot, diketahui, memang benar daun dan buah mahkota dewa mempunyai efek antihistamin. Artinya, tanaman tersebut secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan penggunaannya sebagai obat gatal-gatal akibat gigitan serangga atau ulat bulu, eksim, dan penyakit lain akibat alergi.

Penelitian lain masih kita tunggu untuk membuktikan khasiat luar biasa seperti yang dirasakan beberapa orang di atas. Namun, cerita dari mulut ke mulut rupanya sudah membuat orang, terutama yang sakit berat dan umumnya hampir putus harapan, percaya. Maka, orang pun mulai beramai-ramai mencari bagian berkhasiat mahkota dewa. Tak sedikit yang mencoba menanamnya di pekarangan rumah. Bahkan, ada yang melihat wabah ini sebagai peluang usaha untuk membudidayakan dan mengolahnya menjadi produk ramuan obat tradisional atau jamu dengan berbagai bentuk.

Dijadikan teh
Menanam mahkota dewa memang bukan perkara sulit. Tumbuhan, yang bisa hidup baik pada ketinggian 10 – 1.000 m dpl., ini bisa ditanam dari biji atau hasil cangkokan. Meski penanamannya bisa di dalam pot atau langsung di tanah, pertumbuhannya akan lebih baik bila ditanam di tanah. Tanaman dari biji biasanya sudah berbuah pada umur 10 – 12 bulan. Yang berasal dari cangkokan, mestinya berbuah lebih cepat.

Buah inilah bagian yang paling banyak digunakan sebagai obat alami, di samping daun dan batang. Dari ketiga bagiannya, yakni kulit dan daging buah, cangkang (batok biji), serta biji, yang dimanfaatkan umumnya kulit dan daging buah serta cangkangnya. Buah muda berwarna hijau dan yang tua berwarna merah cerah.
Khasiat buah muda dan tua sama saja, jelas Ning. Sayang, senyawa apa yang terkandung dalam bagian-bagian buah, masih belum terungkap secara detil. Cuma, Hutapea dkk. (1999), seperti dikutip Sumastuti, menyatakan, dalam daun dan kulit buah makuto dewo terkandung senyawa saponin dan flavonoid, yang masing-masing memiliki efek antialergi dan antihistamin.

Ning menulis, dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa sepet-sepet pahit. Sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut, sariawan, mabuk, bahkan keracunan. Apa penyebabnya, belum diketahui dengan pasti. Karenanya, tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya dalam keadaan segar.

Cangkangnya memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah. Bagian ini juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dapat mengakibatkan mabuk, pusing, bahkan pingsan. Namun, setelah diolah, bagian ini lebih mujarab ketimbang kulit dan daging buah. Ia dapat mengobati penyakit berat macam kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru, dan sirosis hati.

Ada alasan mengapa biji mahkota dewa tidak dikonsumsi. Bijinya sangat beracun. Kalau mengunyahnya, kita bisa muntah-muntah dan lidah mati rasa, tambah Ning. Karenanya, bagian ini cuma digunakan sebagai obat luar untuk penyakit kulit.

Sudah tentu untuk menjadikan daging buah atau cangkangnya sebagai obat, perlu pengolahan terlebih dulu. Bisa dijadikan buah kering, teh racik, atau ramuan instan. Namun, yang sering dilakukan adalah dengan menjadikannya teh racik dan ramuan instan.

Bagian lain yang bisa dijadikan obat adalah batang dan daun. Menurut Ning dalam bukunya, batang mahkota dewa secara empiris bisa mengobati kanker tulang. Sedangkan daunnya bisa menyembuhkan lemah syahwat, disentri, alergi, dan tumor. Cara memanfaatkan daun adalah dengan merebus dan meminum airnya.
Jangan kaget. Begitu minum ramuan mahkota dewa, kita segera merasakan serangan kantuk. Efek ini normal. Efek lainnya adalah mabuk. Untuk menghilangkan efek ini dianjurkan untuk minum air lebih banyak. Untuk konsumsi selanjutnya, takaran mahkota dewa perlu dikurangi. Jika masih tetap mabuk, sebaiknya untuk sementara hentikan dulu. Di samping efek buruk tadi ternyata masih ada efek baik-nya. “Psst … kadang-kadang kaum pria ada yang libidonya meningkat”, bisik Ning.

Menurut Ning, dalam proses menyembuhkan penyakit dalam atau penyakit serius macam kanker rahim, setelah pasien mengonsumsi seduhan mahkota dewa badannya bisa merasakan panas-dingin, bahkan kadang kala mengeluarkan gumpalan darah berbau busuk. Ini merupakan proses pembersihan penyakit, tulis Ning.

Penggunaannya bisa dalam bentuk ramuan tunggal bisa pula ramuan campuran. Pencampuran dengan tumbuhan obat lain dimaksudkan untuk memperkuat khasiatnya dan menetralisir racun. Juga untuk mengurangi rasa tidak enaknya, tutur Ning, yang mengaku sering melayani resep yang ditulis beberapa dokter.
Upaya penyembuhan menggunakan ramuan mahkota dewa, menurut Ning, tidak bisa cepat membuahkan hasil. Pengobatannya perlu dilakukan beberapa kali. Bahkan untuk penyakit berat yang kronis perlu waktu lama. Yang perlu diperhatikan adalah takaran penggunaannya mesti tidak melebihi yang dianjurkan. Kalau takarannya berlebih, pengaruh yang tidak diinginkan bisa muncul.

Mesti diingat, wanita hamil muda dilarang mengonsumsi mahkota dewa. Seperti dikutip Ning, Sumastuti juga telah membuktikan mahkota dewa mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot rahim sehingga memperlancar proses persalinan. Ini bisa membahayakan kehamilan yang masih muda.
Yang tak kalah penting, pesan Ning, dalam menggunakan ramuan mahkota dewa kita dianjurkan menyugesti atau menyakinkan diri bahwa ramuan ini manjur, berdoa untuk kesembuhan kita, dan tetap mengunjungi dokter untuk mengetahui perkembangan kesehatan kita. [TEam Ash Shihah]

KEAJAIBAN EMAS CAIR (MINYAK ZAITUN) dan BUKTI NYATA KESEMBUHAN PASIEN

Zaitun termasuk jenis Olea europaea dari keluarga Oleaceae. Sejak ribuan tahun silam masyarakat di sekitar Laut Tengah dan Timur Tengah telah merasakan manfaatnya. Pohonnya banyak tumbuh diwilayah laut tengah, terutama Syria, Italia, dan Spanyol. Dalam bentuk buah, zaitun muda yang berwarna hijau kekuningan kerap disantap begitu saja atau sebagai penambah rasa. Sementara zaitun yang matang dengan warna hitam kerap diacar maupun diperas untuk diambil minyaknya.

Setiap buah zaitun yang matang mengandung 80% air, 15% minyak, 1% protein, 1% karbohidrat, dan serat 1%. Untuk menghasilkan buah dan berproduksi secara penuh, pohon zaitun harus berumur 15-20 tahun.
Hingga saat ini Italia dan Spanyol berada di barisan terdepan negara penghasil minyak zaitun, disusul oleh Yunani, Tunisia, Maroko, dan Amerika Serikat. Kawasan mediterania selama ini memang dikenal sebagai gudang minyak zaitun.

Selama ini penduduk Timur Tengah mengandalkan zaitun sebagai sumber minyak nabati. Minyak inilah yang menciptakan rasa khas pada hidangan mereka. Jika diolah menjadi minyak maka kandungan asam lemak yang dimiliknya antara lain asam oleat atau omega 9 (79%), asam palmitrat atau asam lemak jenuh (11%), asam linoleat atau omega 6 (7%), asam stearat (2%), dan lain-lain sebesar 1%.

Nabi Muhammad SAW telah berpesan agar kita mengkonsumsi dan memakai zaitun sebagai minyak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada enam belas pakar kedokteran paling tersohor di dunia berkumpul di Roma pada tanggal 21 April 1997 M, untuk menerbitkan beberapa pengarahan dan keputusan bersama tentang tema “Minyak Zaitun dan Nutrisi Laut Putih Tengah”. Dalam pernyataan tersebut, mereka menegaskan bahwa mengkonsumsi minyak zaitun bisa melindungi tubuh dari serangan penyakit jantung koroner, kenaikan kolesterol darah, kenaikan tekanan darah, serta sakit diabetes dan obesitas, di samping minyak zaitun juga berkhasiat mencegah terjadinya beberapa jenis kanker.

Keunggulan Minyak Zaitun
1. Kaya vitamin E, 10x lebih banyak dari minyak lain,

2. Tergolong minyak tak jenuh rantai panjang sehingga tahan terhadap pemanasan dengan tanpa merusak kandungan gizinya,

3. Aman dikonsumsi bagi penderita kolesterol dan diabetes bahkan bisa membantu penyembuhannya,

4. Minyak zaitun bersifat sebagai antioksidan dan antibiotik,

5. Kaya Vitamin A, B1, B2, C, D, E, K, dan Fe,

6. Unggul dalam kwalitas, khasiat, dan rasa dengan harga relative terjangkau,

7. Menghilangkan kolesterol pada makanan berlemak.

Khasiat dan Manfaat
1. Sangat baik untuk ibu menyusui agar anak tumbuh optimal dan terhindar dari berbagai penyakit,

2. Mencegah penyakit jantung koroner, meningkatkan kinerja liver, memperlancar pembuangan, menguatkan tulang dan tubuh,

3. Mengoptimalkan pertumbuhan otak dan jaringan syaraf pada bayi, dimana kandungan asam linoleiknya setara dengan ASI,

4. Mengobati penyakit kulit, radang gusi, menetralkan dan mengeluarkan racun, mengeluarkan cacing, dan melembutkan kulit,

5. Mengatasi wasir, sembelit,

6. Menyuburkan rambut, mengatasi berbagai masalah sexual, mengobati luka bakar, mencegah penuaan dini,

7. Mencegah berbagai gangguan lambung, menurunkan resiko terbentuknya batu ginjal.

Minyak zaitun yang murni (Extra Virgin Olive Oil) juga dapat digunakan langsung pada kulit kepala sebelum melakukan perawatan creambath. Bahkan campuran minyak zaitun dengan minyak jarak, perasan lemon serta larutan air dari seduhan daun peppermint diyakini sebagai resep alami untuk mencegah ketombe dan gatal pada kulit kepala.

Minyak zaitun juga berkhasiat untuk mempertahankan bentuk serta kekencangan payudara. Sedangkan untuk tangan dan kaki, minyak zaitun dapat juga digunakan untuk mengurangi kulit yang menebal pada telapak kaki, mempertahankan kehalusan kulit, serta menguatkan kuku. Karena itu, tak ada salahnya untuk Anda menggunakan minyak zaitun pada kulit sehabis mandi agar kulit senantiasa lembap dan lembut.

Minyak zaitun mempunyai sifat susah teroksidasi maka jika dioleskan ke kulit, kulit akan terlindungi dari sinar matahari dan tidak akan terpicu menjadi kanker atau tumor. Manfaat zaitun erat dengan kandungan omega 9. Omega 9 mampu menekan kolesterol jahat dalam tubuh dan menaikkan kadar kolesterol baik.

Saat ini di pasaran terdapat beberapa jenis minyak zaitun tergantung pada proses ekstrasinya, yakni minyak zaitun perawan, murni, dan sulingan. Yang pertama merupakan minyak zaitun bermutu tinggi karena merupakan hasil ekstrasi pertama. Mudah dikenali melalui warnanya yang kehijauan. Sedangkan yang sulingan biasanya berwarna keputihan sebagai karena pemanasan. Bagaimana agar kita bisa menuai manfaat maksimal minyak zaitun? Suhendro mengatakan tergantung kebutuhan kita inginkan. Jika minyak zaitun difungsikan sebagai bahan baku dengan tujuan penambah gizi, disarankan untuk memilih yang murni. Namun, jika hanya sekadar untuk mempercantik makanan maka minyak hasil sulingan sudah memadai. Dia menambahkan zaitun merupakan jenis minyak yang tidak begitu suka dengan panas tinggi. Pasalnya pemanasan yang tinggi akan merusak ikatan rangkap asam lemak zaitun yang lebih mengkhawatirkan dampak lanjutannya akan mengubah minyak zaitun justru menjadi radikal yang berbahaya bagi tubuh.

Bukti nyata kesembuhan pasien
Secara pribadi saya sangat yakin dengan minyak ini, karena ayat nya jelas. Dan hal tersebut terbukti di pasien yang Saya tangani, diataranya
1. Sembelit dan wasir, untuk kasus sembelit dengan faeses yang keras, minyak zaitun sangat cocok, karena ia akan melicinkan dan mempermudah keluarnya faeses. Tetapi untuk sembelit yang faesesnya tidak keras, misalnya ada pasien dengan keluhan tidak bisa BAB tiap hari, BAB nya 3 atau 4 hari sekali. Tetapi saat keluar faesenya tidak keras. Maka untuk kasus yang seperti ini Habbatussauda sangat bagus.

2. Gastritis, Biasa disebut dengan maag. Minyak zaitun juga sangat bagus dikonsumsi oleh pasien ini. Terutama yang terdiagnosa gejal maag secara medis ddan masuk diagnose laambung dingin secara TCM. Lambung dingin mempunyai gejala sama dengan maag. Untuk kasus ini bisa dikombinasi dengan madu, habbatussuda dan minyak zaitun.

3. Jantung koroner, Penyumbatan yang ada di arteri coronaria. Minyak zaitun bisa dikombinasikan dengan pegagan atau daun dewa. Dan untuk kasus jantung minyak zaitun akan memperkuat otot jantung jadi cocok untuk sindrom jantung lemah menurut diagnose TCM.

4. Kolesterol, untuk kasus kolesterol, minyak ini juga sangat bagus. Bisa dikombinasikan dengan bawang putih dan habbatussauda.

Wallahua’lam…

Best regards,

Maroji:
Dari berbagai sumber

Sadar Untuk Sadari

Salah satu penyakit yang sangat mengkhawatirkan bagi kaum wanita adalah kanker payudara. Kanker payudara merupakan jenis kanker paling umum yang diderita kaum wanita. Kaum pria juga dapat terserang kanker payudara, walaupun kemungkinannya lebih kecil dari 1 diantara 1000. Kanker payudara adalah tumor ganas yang menyerang payudara akibat dari pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara.

Faktor Resiko
Beberapa faktor risiko yang lebih memudahkan seseorang untuk mendapatkan kanker payudara, yaitu:
1. Usia
Risiko kanker payudara makin besar seiring dengan bertambahnya usia. Kebanyakan kanker payudara terjadi pada wanita yang berusia di atas 60 tahun.
2. Faktor genetik
Telah ditemukan 2 varian gen yang tampaknya berperan dalam terjadinya kanker payudara, yaitu BRCA1 dan BRCA2. Seorang wanita yang memiliki salah satu dari gen tersebut, maka kemungkinan menderita kanker payudara sangat besar.
Gen lainnya yang juga diduga berperan dalam terjadinya kanker payudara adalah p53, BARD1, BRCA3 dan Noey2.
3. Riwayat keluarga
Wanita yang ibu, saudara perempuan atau anaknya menderita kanker, memiliki risiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara.
4. Faktor hormonal
Kadar hormon wanita yang tinggi selama masa reproduktif wanita, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan hormonal karena kehamilan, meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara.
5. Pernah menderita penyakit payudara non-kanker
6. Menarche (menstruasi pertama) sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun dan kehamilan pertama setelah usia 30 tahun.
7. Pemakaian pil KB atau terapi sulih estrogen
8. Obesitas (kegemukan) pasca menopause
9. Konsumsi alkohol yang berlebih
10. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) untuk mencegah keguguran
11. Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi), terutama pada dada
12. Pemaparan terhadap bahan-bahan kimia seperti pestisida

Gejala
1. Benjolan yang keras di payudara
2. Bentuk puting berubah, mengeluarkan cairan/darah
3. Kulit payudara berkerut seperti kulit jeruk, iritasi, terasa sakit/nyeri (bisa juga ini bukan sakit karena kanker, tapi tetap harus diwaspadai)
4. Terasa sangat gatal di daerah sekitar puting.

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)
Diperkirakan 95% wanita yang pada tahap awal terdiagnosis kanker payudara dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun, sehingga banyak dokter yang merekomendasikan agar para wanita menjalani SADARI untuk mendeteksi benjolan pada payudara. Metode SADARI dianjurkan bagi wanita yang telah berusia 20 tahun. Metode ini sebaiknya dilakukan sebulan sekali yaitu antara hari kelima dan kesepuluh dari siklus menstruasi, dengan menghitung hari pertama haid sebagai hari ke-1. Wanita menopause sebaiknya menentukan tanggal tetap setiap bulannya.

Pemeriksaan lengkap payudara sendiri dibagi atas beberapa tahap:
1) Melihat
a) Tanggalkan pakaian bagian atas. Berdirilah di depan cermin dengan kedua lengan tergantung lepas, di dalam ruangan yang terang.
b) Perhatikan payudara: Apakah bentuk dan ukurannya kanan dan kiri simetris? Apakah bentuknya membesar/mengeras? Apakah arah putingnya lurus ke depan? Atau berubah arah? Apakah putingnya tertarik ke dalam? Apakah puting/kulitnya ada yang lecet? Apakah kulitnya tampak kemerahan? Kebiruan? Kehitaman? Apakah kulitnya tampak menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit jeruk)? Apakah permukaan kulitnya mulus, tidak tampak adanya kerutan/cekungan?
c) Ulangi semua pengamatan di atas dengan posisi kedua tangan lurus ke atas.
d) Ulangi lagi pengamatan dengan kedua tangan di pinggang, dada dibusungkan, kedua siku ditarik ke belakang. Semua pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui adanya tumor yang terletak dekat dengan kulit.
2) Memijat
Teknik memijat dilakukan dengan menggunakan kedua belah tangan. Pijat payudara secara lembut dari tepi hingga ke puting untuk mengetahui ada tidaknya cairan yang keluar dari puting susu (seharusnya tidak ada, kecuali jika sedang menyusui).
3) Meraba
a) Berbaring di atas tempat tidur untuk memeriksa payudara satu demi satu. Pemeriksaan payudara dimulai dari payudara kiri dengan meletakkan sebuah bantal tipis di bawah bahu kiri, sedang lengan kiri direntangkan ke atas di samping kepala atau diletakkan di bawah kepala.
b) Gunakan keempat jari tangan kanan yang saling dirapatkan untuk meraba payudara. Rabaan dilakukan dengan gerakan memutar (seperti membuat lingkaran kecil-kecil), mulai dari tepi payudara hingga ke puting susu.
c) Geser posisi jari sedikit ke sebelahnya, dan lakukan lagi gerakan memutar dari tepi payudara sampai puting susu. Lakukan terus secara berurutan sampai seluruh bagian payudara diperiksa. Gunakan lotion atau sabun sebagai pelicin untuk memudahkan gerakan. Gerakan memutar boleh juga dilakukan mulai dari puting susu, melingkar semakin lebar ke arah tepi payudara atau secara vertikal ke atas dan ke bawah mulai dari tepi paling kiri hingga ke tepi paling kanan. Seluruh area payudara harus tuntas teraba, tidak ada yang terlewatkan.
d) Lakukan masing-masing gerakan memutar dengan kekuatan tekanan yang berbeda-beda, setidaknya dengan tiga macam tekanan. Pertama-tama dilakukan dengan tekanan ringan untuk meraba adanya benjolan di dekat permukaan kulit, yang kedua dengan tekanan sedang untuk meraba adanya benjolan di tengah-tengah jaringan payudara, yang ketiga dengan tekanan cukup kuat untuk merasakan adanya benjolan di dasar payudara, dekat dengan tulang dada/iga.
e) Pindah posisi bantal dan lengan, lakukan pemeriksaan pada payudara kanan dengan menggunakan keempat jari tangan kiri.
f) Ulangi perabaan seperti poin 2 dan 3, tetapi dalam posisi berdiri. Perabaan bisa dilakukan sambil mandi, saat membalur tubuh dengan sabun.
4) Meraba ketiak
Raba ketiak dan area di sekitar payudara untuk mengetahui adanya benjolan yang diduga suatu anak sebar kanker. Kelainan yang ditemukan saat pemeriksaan payudara sendiri seperti benjolan, sekecil apapun, segera periksakan ke dokter.

Terlihat repot, tetapi lebih baik mencegah daripada mengobati bukan ? Lagipula, Sadar untuk SADARI juga merupakan salah satu bentuk mensyukuri nikmat kesehatan. (Syifa, Edisi 12/Maret 2010/1431 H )

Maroji’:

http://kankerpayudara.wordpress.com/2007/12/25/kanker-payudara-gejala-penyebab-dan-diagnosa/

Tjindarbumi.2000. Penanganan kanker Dini dan Lanjut. Jakarta: Bagian Patologi Anatomik. FKUI.