Infertilitas Bukan Tanggung Jawab Istri Saja

Yarobbi.com | Bulletin Ash-Shihah | Infertilitas Bukan Tanggung Jawab Istri Saja

dr. Rizka Sofiana

Mentang-mentang kaum wanita yang diberi perangkat untuk hamil dan melahirkan, lantas jika setelah menikah lama si jabang bayi tak kunjung hadir di dunia, maka istri yang dipersalahkan? Janganlah begitu…
Makanya kita perlu bahas lebih dalam tentang kemandulan… ketidaksuburan… lebih enak kita pakai istilah: infertilitas.
Pertama, kita perlu tahu pengertian infertilitas.
Disebut infertilitas primer jika pasangan suami istri (selanjutnya kita sebut pasutri) tidak pernah mengalami konsepsi (pembuahan) selama lebih dari 12 bulan pernikahan meskipun berhubungan intim secara teratur tanpa perlindungan (tidak menggunakan alat kontrasepsi).
Sedangkan pada kasus infertilitas sekunder, pasutri pernah mengalami konsepsi tetapi kemudian tidak terjadi konsepsi kembali setelah lebih dari 12 bulan meskipun berhubungan intim teratur tanpa perlidungan.
Ada lagi keadaan istri bisa hamil, tetapi tidak mampu hamil sampai cukup bulan (terjadi keguguran misalnya) atau melahirkan bayi hidup. Keadaan ini dalam medis diistilahkan: kehamilan sia-sia  (wastage preganancy).
Jadi infertilitas meliputi ketidak mampuan istri untuk hamil, mengandung cukup bulan, melahirkan bayi hidup, atau ketidakmampuan suami menghamili istri.

Infertilitas Bukan Tanggung Jawab Istri Saja

Syarat Fertil
Sebagai gambaran, pembuahan secara alami dapat terjadi jika:

Suami Testis (buah zakar) minimal terdapat 1, yang bisa menghasilkan sperma normal.
Saluran kelamin (Epididimis sampai vas deferens) patent (tidak ada sumbatan).
Kemampuan ereksi penis untuk melakukan penetrasi ke dalam vagina.
Ejakulasi adekuat -> sperma masuk sempurna di vagina.
Istri Sistem neuroendokrin (persarafan dan hormonal) mulai dari hipotalamus-hipofisis-ovarium–endometrium, harmonis. Ditandai dengan siklus menstruasi yang teratur.
Saluran telur = Tuba Fallopii minimal satu patent, berfungsi.
Rahim = Uterus, endometrium (lapisan rahim terdalam) menerima dan mampu membesarkan embrio hasil pembuahan.
Vagina mampu menerima spermatozoa

Penyebab Infertilitas
Penyebab infertilitas 40 % nya adalah faktor suami, 40 % nya adalah faktor istri dan 20 % tidak dietahui. Di negara berkembang, infeksi saluran reproduksi masih tinggi. Radang panggul yang disebabkan Chlamidya dapat menyebabkan perlekatan/sumbatan tuba pada wanita atau sumbatan epididimis pada pria.

Infertilitas Bukan Tanggung Jawab Istri Saja

Berikut adalah bagan masalah organ yang dapat menyebabkan infertilitas:
Pada Pria

Infertilitas Bukan Tanggung Jawab Istri SajaPada Wanita


Infertilitas Bukan Tanggung Jawab Istri Saja

Problem Pasangan Suami Istri
Selain nabiyullah Adam ‘alaihissalam dan istrinya, juga ‘Isa ‘alaihissalam, dibutuhkan terjadinya pertemuan unsur laki-laki (sperma) dan unsur perempuan (sel telur) sebelum seorang manusia lahir di muka bumi. Jadi peran pihak laki-laki maupun perempuan sama pentingnya dalam urusan kehadiran anak. Ibarat buah dapat dipanen jika sebelumnya benih yang baik ditanam dalam tanah yang subur kemudian dirawat dengan baik pula, atas izin Allah.
Jadi, jika setelah setahun pernikahan belum terjadi kehamilan, suami dan istri dengan kompak datang bersama-sama memeriksakan diri ke dokter. Dokter akan memeriksa status kesehatan secara umum, mencari kemungkinan adanya infeksi saluran reproduksi, menanyakan adakah riwayat kencing bernanah, keputihan, bagaimana siklus menstruasi istri, adakah masalah dalam berhubungan seksual, dll.
Pemeriksaan awal yang paling mudah adalah analisis sperma suami. Untuk mengetahui jumlah, bentuk, gerak dan adanya riwayat infeksi. Jika dibutuhkan dokter akan menganjurkan pemeriksaan ke dokter ahli spesialis andrologi (Sp.And) untuk masalah suami dan spesialis kandungan (Sp.OG=Obstetri:kebidanan; kesehatan kehamilan sampai persalinan, Ginekologi kandungan; kesehatan reproduksi perempuan).

Infertilitas Bukan Tanggung Jawab Istri Saja

Dengan demikian kita bisa bijak memandang permasalahan dalam rumah tangga terutama dalam menyikapi infertilitas, jangan menyalahkan istri saja tapi lakukan pemeriksaan agar masalah lebih jelas. Terpenting adalah ikhtiar kita jangan berhenti pada satu tindakan pengobatan saja, pemeriksaan medis sangat di butuhkan untuk penentuan diagnosa dan pelaksanaan terapi selanjutnya.