UNTUKMU PARA KADER BEKAM: Perhatikanlah Sterilitas

Kita tentunya sudah sering mendengar kata-kata, “ banyak kasus penyebaran virus hepatitis yang menyebar dari perantaraan jarum suntik, penyebaran HIV lewat jarum suntik dan penyebaran penyakit infeksi lainnya lewat jarum suntik”.

Penyebaran penyakit diatas pada intinya adalah melalui darah yang terinfeksi virus tersebut. Ada berita yang pantas kita jadikan acuan untuk berhati-hati dalam membekam. Kabir et al ( 2006) yang melakukan penelitian di Iran melaporkan bahwa hijamah merupakan salah satu sumber transmisi ( penularaan ) virus hepatitis C selain transfuse darah, penggunaan obat-obatan terlarang melalui jarum suntik , kontak seksual, cuci daraah, dan factor lainnya. Pada penelitian ini , pada 135 pasien yang diketahui mengidap virus hepatitis C , 30 Orang (22,2%) diantaranya tertular virus hepatitis C melalui hijamah. Penelitian di Iran lainnya yang dilakukan oleh Sali et al ( 2005 ) menerangkan bahwa hijamah merupakan salah satu transmisi virus Hepatitis B. Pada penelitian ini diantara 500 orang yang terinfeksi virus hepatitis B ( HBsAG positif ) 34 orang diantaranya tertular virus tersebut melalui hijamah.

Riset di atas merupakan fakta yang ada, kita sebagai terapis bekam berhati-hatilah dalam melakukan tindakan bekam. Jangan sampai niatan baik kita membantu orang lain membuat mulus penjalaran penyakit dari satu orang ke orang yang lain. Jangan sampai juga kita berniat baik, menghidupkan sunnah, ternyata diri kita tertular oleh penyakit infeksi tersebut.

Bagaimana langkah preventifnya?
Yang susah adalah orang yang positif terjangkit virus ini terkadang unsymptom ( tidak menampakkan gejala ). Sering kita mendengar kasus, banyak dari kita yang berniat baik mau donor darah untuk membantu saudara kita, eh ternyata ada diantara kita yang terkejut ( baru tahu tentunya ) kalau di dalam tubuhnya terjangkit virus hepatitis.

Di dalam praktek juga sama, Saya terkadang juga tidak tahu apakah si A ada virusnya atau tidak? Maka setidaknya saya mempunyai usulan yang bisa kita lakukan bersama dalam langkah menuju proteksi dan memotong penyebaran virus-virus tersebut:

1. Tanyakanlah ke pasien apakah pernah terkena sakit kuning atau liver.

2. Pakailah masker saat membekam

3. Cucilah tangan anda dengan sabun di bawah air yang mengalir

4. Keringkan tangan anda dengan handuk

5. Pakailah sarung tangan saat mulai melakukan proses pembekaman

6. Perhatikan darah yang ada, usahakan tangan anda tidak bersentuhan langsung dengan darah

7. Buanglah sampah medis (darah, kasa dan lain-lain ) dan bakarlah untuk keamanan bersama. Jangan membuang sampah medis pada tempat sampah umum, yang akan merugikan banyak orang.

8. Bersihkan alat-alat yang dipakai dalam proses membekam dengan Alkohol 70%, clorin atau hydrogen peroksida. Masukkan alat-alat yang digunakan dalam sterilisator anda. Atau tanyakaanlah ke toko alat kesehatan desinfektaan tingkat tinggi yang bisa di gunakan.

9. Jika dimungkinkan setiap pasien harus mempunyai kop/ alat bekam sendiri, sehingga tidak campur dengan pasien yang lain.

10. Jagalah diri para pembekam dengan selalu bergaya hidup sehat, dengan mengkonsumsi suplemen yang menyehatkan, misalnya madu, habbatussauda, dan propolis.

Itulah 10 langkah antisipasif bagi kita semua, setidaknya kita sudah berusaha, masalah tertular virus itu adalah resiko pembekam. Hanya kepada Allohlah kita serahkan semua urusan ini. Wallohu A’lam

Best regards,

Maroji :
• Ebook “A to Z about BEKAM” YAROBBI .COM
• “Kemana seharusnya anda berobat?” dr M. Syaifudin Hakim

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *